spot_imgspot_img
Sabtu 3 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Terowongan Wilhelmina di Pangandaran, Saksi Sejarah Jalur Banjar-Cijulang yang Bakal Direaktivasi

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Jalur kereta api Banjar-Cijulang masih menyisakan peninggalan bersejarah di perbukitan Kabupaten Pangandaran. Kawasan ini menyimpan terowongan-terowongan tua penembus bukit yang menjadi saksi sejarah perkeretaapian masa lalu.

Jalur bersejarah ini kembali masuk dalam rencana reaktivasi pemerintah. Proyek reaktivasi ini akan menghubungkan kembali jaringan transportasi dari Banjar menuju Pangandaran.

Baca Juga: “14 Keramat” Identitas Milangkala ke-14 Kabupaten Pangandaran

Salah satu bangunan utama di lintasan ini adalah Terowongan Wilhelmina di Desa Emplak Kecamatan Kalipucang. Balai Pelestarian Kebudayaan Banten mencatat panjang terowongan ini mencapai 1.127,1 meter.

Fakta Unik Terowongan Wilhelmina, Juliana, dan Hendrik

Terowongan Wilhelmina berada pada ketinggian 77 meter di atas permukaan laut. Mulut terowongan ini memiliki lebar 400 sentimeter serta tinggi hingga 480 sentimeter. Nama terowongan mengadopsi nama Ratu Belanda Wilhelmina, namun warga lokal mengenalnya sebagai Terowongan Sumber.

Sekitar 400 meter dari sana berdiri Terowongan Juliana di Desa Pamotan. Terowongan sepanjang 127 meter ini memiliki jalur melengkung sehingga warga menyebutnya Terowongan Bengkok.

Masih di Desa Pamotan, terdapat Terowongan Heinrich atau Hendrik sepanjang 105 meter. Terowongan yang mengadopsi nama suami Ratu Wilhelmina ini populer dengan nama Terowongan Cikacepit.

Penetapan Cagar Budaya dan Pemanfaatan Jalur oleh Warga

Pemerintah Daerah telah melindungi keutuhan ketiga struktur bersejarah tersebut. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran resmi menetapkan ketiganya sebagai cagar budaya daerah.

“Ketiga terowongan itu sudah di-SK-kan juga sebagai cagar budaya Kabupaten Pangandaran,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Sulastri.

Meskipun kereta api tidak melintas lagi, warga setempat tetap memanfaatkan lahan bekas jalur kereta. Jalur tersebut berfungsi sebagai jalan alternatif penghubung antarkampung.

“Jaraknya lumayan agak jauh dari pemukiman. Tapi banyak lewat motor kok itu akses antarkampung di Kalipucang,” kata warga Kalipucang Pirman (27), Sabtu (3/10/2026).

Rencana reaktivasi jalur Banjar-Cijulang ini akan menghidupkan kembali fungsi transportasi kawasan. Proyek ini sekaligus menyatukan kembali konektivitas daerah dengan peninggalan cagar budaya bersejarah.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru