BANDUNG,FOKUSJabar.id: Penerbangan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung menuju Denpasar, Bali, mendadak dibatalkan setelah para penumpang berada di dalam pesawat selama hampir 30 menit.
Pembatalan terjadi di tengah gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Salah satu penumpang, Rosa Yusriana mengaku, sejak awal sudah menanyakan kemungkinan penerbangannya mengalami keterlambatan kepada petugas check-in.
Baca Juga: Bandara Husein Sastranegara Bandung Batalkan Penerbangan, Ini Penyebabnya
Hal itu dilakukan karena Rosa sebelumnya mendengar adanya penerbangan yang dibatalkan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Sebetulnya saya sudah tanya dari awal. Kemarin juga sempat dengar ada cancel flight. Makanya tadi saya sempat tanya sama check-in, ada kemungkinan delay?” kata Rosa saat ditemui di lokasi Minggu (6/9/2026).
Namun, petugas saat itu memastikan penerbangannya masih sesuai jadwal.
“Katanya, enggak, still on schedule,” ujarnya.
Rosa kemudian bersama penumpang lainnya tetap mengikuti proses keberangkatan hingga masuk ke dalam pesawat. Namun, setelah hampir setengah jam berada di dalam pesawat, penumpang justru mendapat pengumuman bahwa penerbangan dibatalkan.
“Semua penumpang sudah masuk pesawat, kurang lebih hampir setengah jam di dalam pesawat. Tiba-tiba langsung diumumkan kalau penerbangannya dibatalkan,” ungkapnya.
Belum Ada Kepastian
Setelah pembatalan, para penumpang menanyakan kepada pihak maskapai mengenai kelanjutan perjalanan mereka.
Namun, hingga saat ini belum ada kepastian kapan mereka dapat kembali diberangkatkan.
“Setelah itu kami tanya bagaimana kelanjutannya. Katanya akan diinformasikan dalam waktu yang belum ditentukan. Jadi sekarang kami masih menggantung,” katanya.
Rosa menduga kondisi tersebut juga berkaitan dengan penumpang dari penerbangan sebelumnya yang masih menunggu keberangkatan.
“Kemungkinan penerbangan yang dibatalkan kemarin juga masih menumpuk dan penumpangnya masih pending untuk hari ini,” ucapnya.
Rosa sempat mempertimbangkan mencari penerbangan alternatif melalui Surabaya. Namun, opsi tersebut belum dipilih karena masih mempertimbangkan kondisi sebaran abu vulkanik.
“Tadi saya sempat ngobrol dengan penumpang pesawat yang lain. Katanya kalau mau berangkat, mungkin harus melewati Jawa Barat dulu. Ada yang menyarankan penerbangannya dari Surabaya. Tapi itu juga belum tahu, karena mungkin bisa terbawa angin dan abu vulkaniknya juga. Jadi mungkin kami hold dulu. Kalau untuk jalur darat, kayaknya enggak,” ungkap Rosa.
Menunggu Kondisi Kondusif
Karena tidak terburu-buru, Rosa memilih menunggu hingga kondisi kembali kondusif.
“Karena tidak terburu-buru, kayaknya saya tunggu sampai situasinya kondusif saja,” ucapnya.
Rosa mengaku, kecewa karena pembatalan baru disampaikan setelah seluruh penumpang berada di dalam pesawat.
“Mendadak sekali,” katanya.
Menurut Rosa, informasi mengenai potensi gangguan penerbangan seharusnya disampaikan lebih awal sehingga penumpang dapat menyiapkan alternatif perjalanan.
“Kecewa, ya, kecewa banget. Seharusnya kalau sudah tahu situasinya memang sedang seperti ini, terus dengar juga di Cengkareng katanya di-close, seharusnya sudah tahu plan-nya harus seperti apa,” ujarnya.
Pembatalan Setelah Dalam Pesawat
Ia berharap, penumpang tidak baru mendapat informasi pembatalan setelah berada di dalam pesawat.
“Jangan sampai semua penumpang sudah masuk ke dalam pesawat, kemudian baru diinformasikan. Pokoknya kecewa pasti,” tegasnya.
Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai Bandung, Penerbangan Terdampak
Sebelumnya, Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung ditutup sementara pada Minggu (6/9/2026) akibat indikasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Penutupan berdasarkan NOTAM AirNav Indonesia tersebut berlaku mulai pukul 12.07 hingga 16.00 WIB.
Akibat penutupan tersebut, delapan penerbangan terdampak, terdiri dari empat penerbangan kedatangan dan empat penerbangan keberangkatan. Total sekitar 1.344 penumpang turut terdampak.
(Yusuf Mugni)



