JAKARTA, FOKUSJabar.id: Ketua Umum PSSI, Erick Thohir membawa misi besar untuk Super League 2026/2027. Misinya, memutus dominasi klub-klub bermodal besar dan menciptakan persaingan yang lebih merata.
Dia menegaskan, Indonesia tidak ingin mengikuti model kompetisi yang hanya di kuasai satu atau dua klub.
BACA JUGA:
29 Pemain Persija Jakarta Musim 2026/27
Menurutnya, liga akan jauh lebih menarik jika semakin banyak peserta memiliki kekuatan finansial, tata kelola dan kualitas tim yang sehat.
Oleh karena itu, PSSI bersama I League mulai memperketat standar club licensing. Jika sebelumnya hanya ada lima aspek penilaian, kini jumlahnya di tambah menjadi tujuh. Yakni, sporting, infrastruktur, administrasi, legal, keuangan, pemasaran dan sustainability.
Dengan aturan baru tersebut, klub Super League tak cukup hanya membeli pemain bagus dan membangun skuad kompetitif. Mereka juga di tuntut memiliki fondasi bisnis dan manajemen yang sehat.
“Kami ingin melahirkan liga bukan hanya dari aspek komersial. Namun pelan-pelan terus meningkatkan liga.”
“Jangan hanya meniru. Lami mau ada pemerataan klub. Makin banyak klub yang sehat, liganya makin kompetitif, dan penontonnya makin banyak,” kata Erick di kutip jpnn.com, Kamis (3/9/2026).
Menurut Erick Thohir, Indonesia tidak ingin Super League berubah menjadi kompetisi yang hanya memiliki satu kekuatan dominan.
“Kalau di Indonesia, jangan membangun namanya super club. Tidak seperti di negara-negara tetangga, di Malaysia ada titik-titik, di Brunei hanya satu, di Singapura titik-titik,” ujarnya.
Baginya, kompetisi yang terlalu bergantung pada kekuatan segelintir klub berisiko menciptakan ketimpangan.
Dia juga mengingatkan agar klub tidak terjebak dalam persaingan menghamburkan uang tanpa fondasi bisnis yang kuat.
“Dan jangan terus terjebak glamor-glamor klub yang akhirnya bangkrut. Sudah banyak cerita sepak bola Indonesia klubnya bangkrut,” ungkap Thohir.
Untuk memperkuat fondasi klub, I League juga menaikkan kontribusi kepada peserta Super League menjadi Rp27 milyar, dari sebelumnya Rp19 milyar.
BACA JUGA:
Nama PSGC Ciamis Masuk Daftar Klub Nunggak Gaji, Manajemen: Kami Selalu Tertib Bayar Gaji
Tambahan tersebut di harapkan membantu klub menjaga stabilitas keuangan sekaligus membangun tim yang lebih kompetitif.
Erick menilai, investasi pemilik tetap penting. Namun harus di arahkan untuk membangun ekosistem yang sehat.
Dia menegaskan, olahraga seharusnya di pandang sebagai investasi, bukan sekadar pengeluaran.
“Jadi ada kompetisi yang merata sesama klub. Urusan pemilik klub yang sedang baik mau berinvestasi, itu yang kami harapkan. Saya sebagai Menpora selalu mendorong bahwa olahraga ini bukan biaya. Tapi olahraga ini investasi,” tutup Dia.
(Bambang Fouristian)



