spot_imgspot_img
Senin 24 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Air Gunung Menyusut, Warga Cihanja-Cipicung Rogoh Rp90 Ribu per Toren

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan air bersih bagi sebagian warga Kampung Cihanja dan Cipicung, Kelurahan Ciumbuleuit Kecamatan Cidadap, Kota Bandung Jawa Barat (Jabar).

Debit air dari sumber pegunungan yang selama ini di andalkan warga terus menyusut. Sehingga sejumlah warga mulai kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

BACA JUGA:

Pemkot Bandung Siapkan Rp1,5 M untuk Korban Gempa NTT

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah toren penampungan air milik warga tampak kosong. Sebagian warga bahkan harus mengalirkan air menggunakan selang ke dalam galon atau wadah penampungan meski debit air yang keluar relatif kecil.

Air tersebut di gunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Mulai dari mandi, mencuci hingga memasak.

Meski demikian, kondisi krisis air bersih belum di rasakan seluruh warga. Sebagian masyarakat masih dapat memenuhi kebutuhan air dengan memanfaatkan tempat penampungan air bersama yang berada di wilayah bawah Kampung Cipicung.

Warga Kampung Cipicung RT 4/10, Euis (70) mengatakan, debit air dari pegunungan saat ini tidak lagi mengalir seperti biasanya. Kondisi tersebut membuat sejumlah warga kesulitan mendapatkannya.

“Iya sekarang sulit karena air dari gunung kadang tidak mengalir. Selain di Cipicung, air di Cihanja juga sekarang (mengalir) sangat kecil,” kata Euis saat di temui di lokasi, Senin (24/8/2026).

Menurutnya, hingga kini belum ada bantuan distribusi air bersih ke wilayah tersebut. Pasalnya, sebagian besar warga masih dapat mengakses sumber air lain. Termasuk sumur dan tempat penampungan air bersama.

Namun, bagi warga yang kesulitan mendapatkan air, kebutuhan sehari-hari terpaksa di penuhi dengan membeli.

“Kalau saya masih sulit dapat air. Jadi kalau sudah tidak mengalir, ya beli Rp90 ribu satu toren. Itu cukup untuk dua hari,” katanya.

Warga lainnya, Tati (46) mengatakan, kondisi di Kampung Cihanja masih relatif terkendali. Sumber air dari pegunungan masih mengalir sehingga kebutuhan sehari-hari warga masih dapat terpenuhi.

BACA JUGA:

Lomba Rakyat Partai Demokrat, Anton: Dari Rakyat Untuk Rakyat

“Belum terlalu parah kalau di sini, masih cukup lah. Tapi ada beberapa warga yang kesulitan. Tapi itu juga masih bisa ngambil di tempat penampungan di bawah,” ucap Tati.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan membenarkan adanya sebagian warga di kawasan tersebut yang mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau.

Menurut Farhan, persoalan ketersediaan air di kawasan permukiman tersebut di pengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya kondisi sumber air yang berada cukup jauh di bawah permukaan tanah.

“Itu memang harus di akui. Salah satu masalahnya adalah kedalaman sumber air yang cukup jauh. Untuk mendapatkan air, pengeboran kadang harus mencapai kedalaman hingga 100 meter,” kata Farhan.

Selain persoalan kedalaman sumber air, posisi permukiman yang tidak selalu berdekatan dengan sumber mata air juga menjadi kendala dalam pemenuhan kebutuhan air bersih warga.

Untuk wilayah yang kondisinya sudah sangat krusial, Pemkot Bandung akan menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki.

“Sementara untuk wilayah yang masih memungkinkan di tangani melalui program pembangunan lingkungan, kami dorong pembangunan Sarana Air Bersih (SAB) melalui program reses dan pokok pikiran (pokir),” kata Farhan.

Farhan menilai, pembangunan sarana air bersih dan distribusi air menggunakan mobil tangki hanya menjadi solusi sementara. Untuk mengatasi persoalan secara permanen, perluasan jaringan layanan PDAM Tirtawening di nilai menjadi solusi jangka panjang.

“Solusi jangka panjang hanya satu, yaitu PDAM. Tidak ada solusi jangka panjang lain selain pengembangan layanan,” katanya.

BACA JUGA:

Proyek BRT Tuai Keluhan, Warga: Tambah Bandung Semakin Macet

Pemkot Bandung saat ini juga masih mengupayakan tambahan pasokan air baku sekitar 3.500 liter per detik dari Waduk Saguling dan Cirata untuk memperkuat ketersediaan air di Kota Bandung.

“Untuk kawasan ini (Cihanja), solusi sementara tetap berupa pembangunan sarana air bersih dan distribusi air menggunakan mobil tangki. Namun untuk jangka panjang, tetap harus melalui jaringan PDAM,” jelasnya.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru