JAKARTA,FOKUSJabar.id: Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih menunjukkan tekanan hingga penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026). Mata uang Garuda belum berhasil kembali menembus ke bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pelemahan mata uang ini memicu kekhawatiran pelaku pasar karena berdampak langsung pada biaya impor dan harga barang.
Baca Juga: Enam Dokter Internship Meninggal, Kemenkes Lakukan Evaluasi Nasional dan Skrining Mental
Meski begitu, penguatan dolar AS memberikan angin segar serta keuntungan berlipat bagi para pelaku usaha ekspor.
Data resmi Bank Indonesia mencatat kurs tengah dolar AS bertahan pada posisi Rp18.078 per dolar AS.
Bank Indonesia menetapkan kurs jual sebesar Rp18.168,39 serta kurs beli berada pada level Rp17.987,61.
Pergerakan rupiah sepanjang pekan terakhir Juli 2026 cenderung stagnan dalam rentang Rp18.021 hingga Rp18.111.
Pasar domestik saat ini sedang mencermati dan menunggu arah kebijakan moneter pasca pergantian kepemimpinan Bank Indonesia.
Sementara itu, faktor eksternal dipicu oleh tingginya minat investor global terhadap kepemilikan aset berbasis dolar AS.
Ekspektasi suku bunga acuan AS yang bertahan tinggi turut memperkokoh dominasi mata uang Paman Sam tersebut.
Dampak tekanan kurs ini berpotensi meningkatkan beban utang luar negeri serta biaya operasional industri manufaktur.
Namun, eksportir nasional menikmati konversi pendapatan dolar AS yang jauh lebih tinggi ke dalam mata uang rupiah.
Pelaku pasar bakal terus memantau dinamika suku bunga global serta langkah strategis Bank Indonesia dalam mengawal stabilitas rupiah.
(Berbagai Sumber/Jingga Sonjaya)



