TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Wakil Wali Kota Tasikmalaya Jawa Barat (Jabar), Dicky Candra Negara kerap menghadiri kegiatan-kegiatan keagamaan. Hal tersebut untuk memperkokoh sinergi antara ulama dan umara.
Terbaru menghadiri kegiatan Silaturahmi dan Penguatan Kelembagaan Ponpes yang di inisiasi Forum Pondok Pesantren (FPP) Kota Tasikmalaya di Ponpes Darussalam Sukamanah, Kecamatan Cipedes.
BACA JUGA:
Petani Menjerit, Proyek Sungai Cikunten Kota Tasikmalaya Bikin Pasokan Air Sawah Terhenti
Pertemuan tersebut membahas beragam persoalan umat serta strategi untuk memperkuat lembaga Pondok Pesantren di tengah sorotan isu-isu negatif masyarakat.
Seperti di ketahui, lembaga Pondok Pesantren belakangan ini terus menjadi buah bibir di kalangan masyarakat karena prilaku dan tindakan-tindakan tidak terpuji yang di lakukan oleh oknum pimpinan Ponpes dan pengurusnya.
Ketua FPP Kota Tasikmalaya, Nono Nurul Hidayat mengatakan, pertemuan ini terasa istimewa karena di hadiri langsung Wakil Wali Kota Dicky Candra Negara. Ini membuktikan sinergi antara ulama dan umara tetap kokoh dan solid untuk membangun daerah dan umat.
Pertemuan ini sebagai wadah silaturahmi antara lembaga pendidikan agama dan Pemda untuk sama-sama bergerak membangun daerah. Sekaligus membangun generasi muda yang cerdas dan berakhlak mulia.
“Sinergi antara ulama dan Umara perlu terus di tingkatkan untuk menjaga persatuan bangsa, memperkuat keadilan serta mewujudkan kesejahteraan dan keberkahan untuk seluruh umat,” ungkap Nono Nurul Hidayat.
Ia menjelaskan, moral dan akhlak merupakan fondasi utama untuk mewujudkan kehidupan yang religius dan penuh keberkahan dari Allah SWT. Karenanya lembaga keagamaan harus terus di perkuat dalam membimbing moral dan akhlak generasi muda dan umat.
“Ulama dengan Ponpesnya berperan penting dalam membimbing moral dan akhlak umat. Sementara umara menjalankan roda pemerintahan dengan adil dan bijaksana. Sehingga dua hal ini harus seimbang,” ungkapnya.
Dia menyampaikan pesan mendalam agar pondok pesantren tetap di perkuat dan di jaga fungsi dan marwahnya sebagai pusat pendidikan moral dan akhlak umat.
“Pimpinan Ponpes harus dapat memperkuat kelembagaan dan marwahnya. Kiyai-nya harus betul-betul Lilah karena Allah. Jangan mengajarkan keilmuan di luar agama,” ujarnya.
BACA JUGA:
Aksi TNI di Puncak Kubah Masjid di Kota Tasikmalaya Ini Bikin Haru, Prajurit dan Santri Kompak Percantik Pesantren
“Kalau sesuatu yang di ajarkan karena lilah, insyaallah Pimpinan Ponpes dan lembaga pondoknya kuat dan Istiqomah,” tegasnya.
Ia menambahkan, metode utama kiyai di pesantren adalah tabligh. Yakni menyampaikan, berdakwah dan mengajak amal ma’ruf nahi mungkar secara istiqamah.
Dicky Candra Negara mengapresiasi atas keistiqamahan para ulama dan pimpinan Ponpes dalam membina umat dan mengembangkan syiar Islam di Kota Santri Tasikmalaya.
Dia mengaku, hingga saat ini Pemerintah Kota belum mampu berbuat banyak untuk bantuan materi bagi pesantren karena kondisi fiskal daerah yang belum stabil.
“Meski kondisi fiskal kami sangat memprihatinkan, namun percayalah Pemerintah akan terus berupaya mendorong dan memanjatkan doa untuk kemajuan pesantren. Pesantren merupakan pilar moral dan pendidikan di Tasikmalaya,” ungkap Dicky Candra.
Dicky mengatakan, Dia juga menyampaikan persoalan dan kondisi pemerintahan Kota Tasikmalaya saat ini. Terutama kondisi fiskal yang sedang tidak baik-baik saja.
“Perlu kami sampaikan, kondisi keuangan Kota kita saat ini sedang krisis, dampak dari pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) serta di hapusnya bantuan keuangan dari Provinsi. Sehingga mengalami defisit keuangan. Namun demikian, kami terus berusaha menutupi defisit ini dengan mengoptimalkan potensi-potensi PAD,” ungkapnya.
Dicky Candra berharap, masyarakat bisa memahami dan memaklumi pemerintah yang belum bisa menyalurkan bantuan keuangan ke sejumlah lembaga maupun organisasi lainnya.
“Kondisi keterbatasan anggaran daerah, memaksa pemerintah daerah harus menunda dan bahkan menghentikan sementara bantuan keuangan karena dana transfer dari pusat di potong. Sehingga kami prioritaskan hal-hal yang sangat urgen,” terangnya.
Dalam pertemuan, menyepakati beberapa poin demi penguatan kelembagaan pesantren. Di antaranya, peningkatan manajemen pesantren, digitalisasi administrasi, sinergi kurikulum salaf dan modern serta penguatan ekonomi pesantren melalui unit usaha mandiri.
Sehingga pesantren tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mandiri secara ekonomi maupun kelembagaan.
(Seda)



