TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Proyek revitalisasi Sungai Cikunten di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, mulai mengganggu distribusi pasokan air irigasi pertanian. Sejumlah petani lokal mengeluhkan kondisi sawah mereka yang mengering akibat terhentinya kucuran air selama proses perbaikan fisik sungai berlangsung.
Aspirasi tersebut mengalir dari para petani melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) hingga sampai ke telinga Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara. Merespons laporan kritis itu, Dicky langsung bergerak cepat menyambangi Kantor Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) di Jalan Leuwidahu No. 85, Indihiang, Kota Tasikmalaya.
“Kami mendatangi DKP3 Kota Tasikmalaya untuk membangun koordinasi taktis sekaligus menyalurkan keluhan para petani Mangkubumi. Dampak revitalisasi Sungai Cikunten memicu kelangkaan air akut, sehingga kami wajib merumuskan langkah penyelamatan secepatnya,” tegasnya, Rabu (24/6/2026).
Ia menambahkan, komunikasi intensif dengan dinas pengampu pertanian sangat krusial demi menelurkan solusi konkret. Langkah ini bertujuan mengembalikan aktivitas cocok tanam para petani agar berjalan normal kembali tanpa bayang-bayang gagal panen.
Pemkot Tasikmalaya Jadwalkan Evaluasi Total Minggu Depan
Selain mengonsolidasikan jajaran internal DKP3, Wakil Wali Kota juga mengagendakan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy yang berbasis di Kota Banjar selaku penanggung jawab proyek fisik tersebut. Mengingat pengerjaan struktur Sungai Cikunten memakan waktu cukup lama, pemerintah daerah menuntut opsi mitigasi agar hamparan sawah warga tidak mengalami kekeringan massal.
Kepala DKP3 Kota Tasikmalaya, Ely Suminar, membenarkan munculnya riak kekhawatiran dari sektor hilir. Menurutnya, pihak BBWS Citanduy sebenarnya telah menggelar sosialisasi awal kepada para petani, perangkat kecamatan, serta kelurahan sebelum mengeksekusi proyek.
Dalam sosialisasi tersebut, BBWS menawarkan sistem pengaliran air secara bergilir menggunakan metode buka-tutup pintu air darurat. Skema ini bertujuan menjaga ketersediaan pasokan air sawah meskipun volume debit air menyusut akibat aktivitas pengerukan tanah di badan sungai.
“Kami mengonfirmasi bahwa BBWS sudah menyosialisasikan dampak revitalisasi ini. Namun, kami sangat memahami ketakutan para petani karena sebagian lahan kini memasuki fase kritis yang membutuhkan volume air melimpah. Saya sudah menghubungi BBWS Citanduy untuk menggelar pertemuan langsung pada minggu depan guna mengevaluasi efektivitas sistem gilir air tersebut,” jelas Ely Suminar.
Secara makro, proyek perbaikan Sungai Cikunten mengemban misi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur irigasi regional. Konstruksi ini akan menyumbat rupa-rupa titik kebocoran sekaligus memperlancar pasokan air dari hulu hingga hilir demi mendongkrak tonase hasil panen.
Kendati demikian, Ia menegaskan bahwa agenda pembangunan infrastruktur tidak boleh mengorbankan siklus musim tanam yang menjadi urat nadi pendapatan utama masyarakat.
(Seda)



