TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Puluhan prajurit berpakaian loreng dari Batalyon Infanteri Teritorial dan Pembangunan (Yonif TP) 939/Macan Putih memicu pemandangan sejuk di sudut Kota Tasikmalaya menjelang pergantian tahun baru Islam 1448 Hijriyah. Para personel TNI ini melebur bersama para santri untuk mengayunkan kuas dan sapu demi mempercantik Pondok Pesantren Sulalatul Huda.
Gerakan gotong-royong yang bergulir sejak Selasa (23/6/2026) tersebut mengambil tempat di kompleks pesantren yang berlokasi di Jl. Paseh No. 102, Tuguraja, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya. Ratusan pasang mata menyaksikan aksi penuh kebersamaan ini sebagai wujud nyata kemanunggalan TNI bersama rakyat.
Baca Juga: Demi Program MBG, Blitar Siap Kirim 10,8 Ton Telur ke Kota Tasikmalaya Setiap Hari
“Kami mengondisikan kehadiran personel TNI di Tasikmalaya agar senantiasa membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas. Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah menjadi waktu paling presisi untuk merefleksikan semangat hijrah melalui aksi sosial,” tegas Komandan Yonif TP 939/Macan Putih, Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri Deddy Setya Wijaya, S.S.T.Han, S.I.P., M.Sc, Rabu (24/6/2026).
Aksi Heroik di Puncak Kubah Masjid, Pasukan Macan Putih Rawat Kenyamanan Pusat Pendidikan Islam Sejarah
Salah satu momen paling ikonik sekaligus mendebarkan terjadi saat beberapa personel TNI memanjat ketinggian menuju kubah utama masjid pesantren. Para prajurit berpegangan kuat pada struktur bangunan atas demi mengelupas sisa-sisa cat lama yang telah usang akibat gerusan cuaca.
Setelah mengelupas lapisan usang, mereka melakukan pengecatan ulang pada area kubah dan dinding masjid secara sukarela guna mengembalikan estetika tempat ibadah. Tak hanya memoles warna dinding, “Pasukan Macan Putih” juga menyisir seluruh fasilitas pondok yang mulai rapuh untuk mereka perbaiki satu per satu.
Langkah Yonif TP 939/Macan Putih membidik Pesantren Sulalatul Huda menuai banyak pujian. Karena menyasar salah satu pilar sejarah pendidikan di Kota Tasikmalaya.
Selama ini, masyarakat mengenal Sulalatul Huda sebagai lembaga yang adaptif. Karena sukses mengawinkan tradisi kitab kuning (salaf) dengan kurikulum sains modern, penguasaan bahasa asing, serta ilmu dakwah kontemporer.
Letkol Deddy Setya Wijaya menegaskan bahwa pihaknya menaruh perhatian utama pada jaminan kenyamanan para pencari ilmu agama. Lingkungan yang bersih, representatif, dan rapi otomatis melipatgandakan motivasi belajar para santri di dalam pondok. Lewat kerja bakti fisik yang menguras keringat ini, Pesantren Sulalatul Huda kini menyambut tahun baru Islam dengan wajah baru. Dengan tampilan yang lebih segar, bersih, dan berseri.
(Abdul Latif)



