spot_imgspot_img
Senin 8 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Gangguan Kesehatan Mental di Tasikmalaya Naik, RSUD dr. Soekardjo Layani Lebih dari 60 Pasien per Hari

TASIKMALAYA,FOKUSjabar.id: Grafik gangguan kesehatan mental (mental disorders) di tengah masyarakat Kota Tasikmalaya terus merangkak naik secara signifikan. Ironisnya, lonjakan problem psikologis ini kerap kali luput dari deteksi dini hingga akhirnya memicu dampak yang sangat fatal.

Dalam beberapa waktu terakhir, fenomena tragis berupa keputusan sejumlah warga Kota Tasikmalaya yang nekat mengakhiri hidup secara paksa merebak ke permukaan. Realitas memprihatinkan ini menjadi indikator kuat bahwa kondisi kesehatan mental atau disabilitas psikososial masyarakat di tatar Sukapura kini sedang mengalami guncangan hebat.

Baca Juga: Banyak Alumni Tembus Pelatnas, Kejurprov Satria Tama Karate 2026 Kembali Cari Bintang Baru

Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, Dr. dr. Titie Purwaningsari, membongkar fenomena mengejutkan ini. Ia mengungkapkan bahwa volume kunjungan pasien klinis ke poli jiwa rumah sakit milik pemerintah tersebut melonjak tajam dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Perubahan pola pelayanan menjadi bukti nyata atas ledakan kasus ini. Otoritas rumah sakit yang semula hanya membuka praktik dokter jiwa selama setengah hari, kini terpaksa memperpanjang jam operasional layanan hingga sore hari penuh demi menampung pasien.

“Dalam kurun waktu dua tahun belakangan, klinik jiwa kami melayani lebih dari 60 pasien setiap harinya. Mayoritas pasien yang datang ini justru berada pada kelompok usia produktif,” jelas dr. Titie Purwaningsari, Senin (8/6/2026).

Titie menganalogikan tren gangguan mental saat ini bak bom waktu yang siap meledak kapan saja. Banyak kasus berat muncul secara mendadak tanpa memperlihatkan gejala klinis yang kasat mata, sehingga penderita maupun pihak keluarga sering kali tidak menyadari bahaya tersebut hingga kondisinya terlanjur parah.

RSUD dr. Soekardjo Hadapi Krisis Dokter Spesialis Jiwa dan Ruang Poli Autentik

Mirisnya, lonjakan drastis jumlah pasien tersebut tidak berbanding lurus dengan ketersediaan sarana dan prasarana di rumah sakit. Saat ini, RSUD dr. Soekardjo hanya mengandalkan satu orang dokter spesialis jiwa untuk melayani puluhan pasien harian. Kondisi kian pelik lantaran fasilitas kesehatan milik Pemkot Tasikmalaya ini belum memiliki ruangan poli rawat jalan khusus untuk menampung pasien gangguan kejiwaan.

“Rumah sakit milik pemerintah daerah ini menjadi satu-satunya faskes yang tidak mempunyai ruang poli rawat jalan mandiri untuk pasien jiwa,” ungkap Titie.

Akibatnya, manajemen rumah sakit terpaksa menumpangkan pelayanan pasien jiwa di ruangan milik unit lain selama hampir lima tahun terakhir, meski kondisinya jauh dari kata representatif. Ketiadaan ruangan kosong juga menjegal pihak rumah sakit untuk mendatangkan peralatan medis penunjang yang canggih.

Titie membandingkan kondisi tersebut dengan sektor swasta. Saat ini, baru Rumah Sakit Islam Hj. Siti Muniroh yang mengantongi peralatan lengkap serta mengikat kerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengoperasikan layanan kesehatan jiwa terpadu di Tasikmalaya.

Berdasarkan kompilasi data survei, rupa-rupa persoalan sosial menjadi pemantik utama yang merusak kesehatan mental warga. Faktor jepitan ekonomi, disharmoni keluarga, tekanan berat di lingkungan kerja, hingga gesekan sosial di masyarakat sukses menjadi pemicu utamanya.

Kebutuhan Dokter Spesialis Jiwa

Melihat urgensi yang ada, dr. Titie mendesak Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk segera membuka formasi pegawai (CPNS/PPPK) yang lebih besar. Tentunya untuk mengisi posisi dokter spesialis jiwa. Pemkot juga wajib memprioritaskan pembangunan gedung serta pengadaan alat penunjang medis pada pos anggaran mendatang.

“Kami sudah melayangkan usulan resmi terkait pengadaan layanan unggulan kesehatan jiwa ini ke pemerintah daerah. Kami berharap proyek ini bisa terealisasi pada tahun anggaran 2027 nanti,” harapnya.

Sebagai langkah preventif, dr. Titie membagikan kiat taktis guna memutus rantai pemburukan gangguan jiwa. Ia meminta lingkungan bertetangga serta keluarga inti untuk meningkatkan kepekaan sosial terhadap perubahan perilaku orang-orang terdekat.

“Apabila melihat anggota keluarga atau tetangga yang menunjukkan gelagat murung berkepanjangan, menarik diri dari pergaulan, gampang tersulut emosi tanpa sebab, atau kerap berucap ingin mengakhiri hidup, segera bawa mereka berkonsultasi dengan ahli kejiwaan. Penanganan yang cepat dan tepat bisa menyelamatkan nyawa mereka,” pungkas dr. Titie.

(Seda)

spot_img

Berita Terbaru