BANDUNG, FOKUSJabar.id: Kopi telah lama di kenal sebagai minuman yang identik dengan peningkatan kewaspadaan. Kandungan kafein di dalamnya membuat banyak orang mengandalkannya untuk membantu tetap fokus dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun, tidak semua orang merasakan manfaat yang sama setelah mengonsumsi kopi. Dalam beberapa kasus, sebagian individu justru melaporkan munculnya rasa lelah bahkan kantuk setelah minum kopi.
BACA JUGA:
Cafe Baraya Kopi di Banjarsari Ciamis Kebakaran
Fenomena ini kerap menimbulkan kebingungan di masyarakat. Di satu sisi, kopi di anggap sebagai stimulan, tetapi di sisi lain justru dapat menimbulkan efek yang bertolak belakang pada kondisi tertentu.
Secara ilmiah, kafein bekerja dengan memengaruhi sistem saraf pusat. Zat ini menghambat kerja adenosin. Yaitu senyawa kimia di otak yang berperan dalam memicu rasa lelah dan kantuk.
Ketika adenosin terblokir, tubuh tidak langsung merasakan kelelahan sehingga seseorang menjadi lebih waspada.
Meski demikian, efek tersebut tidak bersifat permanen. Kafein hanya menunda sinyal kelelahan, bukan menghilangkannya. Ketika pengaruh kafein mulai berkurang, adenosin kembali bekerja dan dapat memunculkan rasa kantuk yang tertunda.
Kondisi ini di kenal sebagai fenomena “caffeine crash.” Pada tahap ini, tubuh dapat mengalami penurunan energi secara tiba-tiba setelah efek kafein menghilang, Sehingga rasa lelah terasa lebih jelas.
Respons tubuh terhadap kafein juga di pengaruhi oleh faktor genetik. Setiap individu memiliki kemampuan metabolisme yang berbeda dalam memproses kafein yang di tentukan oleh aktivitas enzim tertentu di dalam hati.
Pada orang dengan metabolisme kafein yang cepat, efek stimulan cenderung lebih singkat. Akibatnya, rasa lelah bisa muncul lebih cepat di bandingkan mereka yang memproses kafein lebih lambat.
Selain faktor biologis, pola konsumsi juga berpengaruh. Konsumsi kopi secara rutin dalam jumlah tinggi dapat memicu toleransi. Sehingga tubuh menjadi kurang responsif terhadap efek kafein.
BACA JUGA:
Forkopicam Mangunjaya Pangandaran Tinjau Lima Dapur MBG
Dalam kondisi tersebut, otak dapat meningkatkan jumlah reseptor adenosin. Hal ini justru membuat tubuh lebih mudah merasakan kelelahan meskipun telah mengonsumsi kopi.
Kondisi fisik saat mengonsumsi kopi juga turut menentukan efek yang di rasakan. Jika seseorang kurang tidur, kafein hanya memberikan dorongan sementara tanpa benar-benar menggantikan kebutuhan istirahat.
Selain itu, konsumsi kopi yang mengandung gula dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah. Setelah mengalami lonjakan energi, tubuh bisa mengalami penurunan yang memicu rasa lelah.
Faktor lain seperti dehidrasi ringan, stres serta pengaruh obat-obatan tertentu juga dapat memperkuat munculnya rasa kantuk setelah minum kopi.
Dengan demikian, efek kopi tidak selalu sama bagi setiap orang. Meski umumnya membantu meningkatkan kewaspadaan.
Dalam kondisi tertentu, kopi justru dapat memicu rasa kantuk. Hal ini menunjukkan bahwa respons tubuh terhadap kafein sangat di pengaruhi oleh berbagai faktor internal.
(Jingga Sonjaya)



