BANDUNG,FOKUSJabar.id: Dua anak harimau di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo mati mendadak setelah terinfeksi virus mematikan panleukopenia.
Kejadian ini langsung memicu perhatian serius Pemerintah Kota Bandung. Dan Pemkot akan mengevaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan kebun binatang.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengaku sangat terpukul atas kejadian tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan para ahli, kedua anak harimau berusia 8 bulan itu terinfeksi virus yang dalam sepekan terakhir berkembang sangat ganas dan bersifat akut.
Baca Juga: Pemkot Bandung Tunggu Arahan Pusat Soal WFH dan PJJ
“Ini sangat memprihatinkan dan menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Meski panleukopenia tergolong virus yang umum, namun ketika menyerang kucing besar usia muda, tingkat fatalitasnya sangat tinggi,” kata Farhan Kamis (26/3/2026).
Farhan menegaskan, langkah cepat saat ini di fokuskan pada penguatan sistem biosekuriti di kawasan kebun binatang. Mengingat lokasinya berada dekat permukiman warga serta tingginya mobilitas pengunjung, pengamanan kesehatan satwa menjadi prioritas utama.
Selain itu, Pemkot Bandung akan menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Kehutanan, untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kebun binatang.
“Kasus ini harus menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem pengelolaan secara total,”ucapnya.
Sebagai lembaga konservasi, kebun Binatang juga di tuntut tetap menjalankan fungsi utamanya, yakni menjaga keberlangsungan reproduksi satwa langka.
Target Pembenahan Tata Kelola
Farhan menyatakan, program penangkaran tidak boleh berhenti, bahkan ke depan akan di kembangkan hingga tahap pelepasliaran satwa.
Ia juga menyoroti pentingnya pengembangbiakan satwa endemik Jawa Barat sebagai bagian dari upaya pelestarian keanekaragaman hayati daerah.
Dalam waktu satu bulan ke depan, Pemkot Bandung menargetkan pembenahan tata kelola selesai di lakukan. Pemerintah juga akan menunjuk lembaga konservasi berbadan hukum sebagai mitra resmi dalam pengelolaan kebun binatang.
Di tengah kabar duka ini, Farhan mengingatkan Kebun Binatang Bandung sebenarnya memiliki rekam jejak reproduksi yang cukup baik. Salah satunya kelahiran harimau betina bernama Donggala pada 2019 dari induk pejantan yang sama, Sahrulkan.
Baca Juga: BBKSDA Jabar Selidiki Kematian Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo
“Ini membuktikan bahwa kita punya kemampuan dalam penangkaran. Kehilangan dua anakan harimau ini menjadi pukulan berat, tapi juga momentum untuk berbenah,”ungkapnya.
Farhan memastikan, bahwa prosedur vaksinasi dan standar perawatan satwa telah di jalankan sesuai ketentuan, baik sebelum maupun setelah pengelolaan di ambil alih pemerintah. Proses transisi pun di lakukan dengan transfer informasi yang lengkap.
“Kami tetap berkomitmen menjaga animal welfare. Namun kejadian ini menunjukkan bahwa biosekuriti, terutama di perimeter kebun binatang, harus di tingkatkan secara signifikan,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)



