TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Tasikmalaya pada Oktober mendatang, gagasan besar tengah di siapkan Dewan Kesenian dan Kebudayaan Tasikmalaya (DKKT).
Sebuah peristiwa budaya bertajuk “Situ Gede Art Festival” di rancang menjadi ruang temu antara sejarah, tradisi, dan semangat kekinian.
Ketua DKKT Tasikmalaya, Tatang Pahat, menyebut gagasan ini berangkat dari nilai luhur yang terkandung dalam Petuahnya yang sarat makna tentang hubungan masa silam dan masa kini di nilai relevan untuk dijadikan fondasi membangun peradaban budaya hari ini.
Baca Juga: Evaluasi MBG Kewenangan DPRD Kabupaten Tasikmalaya Komisi Berapa?
“Kalau tidak ada masa lalu, tidak akan ada hari ini. Spirit itulah yang ingin kami hadirkan. Festival ini bukan sekadar panggung hiburan, tapi ruang perenungan tentang jati diri Tasikmalaya,” ujar Tatang, Sabtu (28/2/2026).
Dari Realitas Sosial ke Bahasa Panggung
Menurutnya, konsep festival di garap dengan pendekatan antropologi dan sosiologi. Artinya, realitas kehidupan masyarakat—dari tradisi, kebiasaan (habit), folklor, mitologi, hingga sejarah—akan di olah menjadi bahasa simbolik pertunjukan.
DKKT ingin menghadirkan karya berbasis riset budaya, di mana tubuh penari, syair lagu, artistik panggung, hingga kesenian tradisi di rajut dalam satu narasi besar. Semua di kemas tanpa kesan menggurui, melainkan mengajak publik menyelami makna.
“Budaya itu hidup dan nyata di tengah masyarakat. Tugas seni adalah menangkap energi realitas itu, lalu memanggungkannya dengan estetika yang luwes. Di situ terjadi dialog antara penonton dan nilai,” jelasnya.
Festival ini juga akan memadukan tradisi dan kontemporer. Bagi Tatang, seni kekinian bukanlah ancaman bagi nilai lokal, melainkan jembatan untuk menjangkau generasi muda agar tetap merasa memiliki akar budayanya.
Situ Gede: Ruang Sejarah dan Energi Kolektif
Pemilihan sebagai lokasi festival di nilai strategis sekaligus simbolik. Selain di kenal sebagai objek wisata, Situ Gede menyimpan jejak sejarah dan kearifan lokal yang membentuk Tasikmalaya seperti sekarang.
“Situ Gede bukan sekadar ruang geografis. Ia adalah ruang batin masyarakat. Ada memori kolektif di sana yang perlu kita hidupkan kembali,” kata Tatang.
Ia menilai kawasan tersebut belum di garap maksimal sebagai panggung budaya kota. Padahal, jika di kelola serius, Situ Gede bisa menjadi ikon kebudayaan yang memperkuat identitas Tasikmalaya.
Peran Pemerintah dan Tanggung Jawab Bersama
DKKT berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya mengambil peran aktif sebagai motor penggerak. Tatang menegaskan, pemerintah idealnya menjadi fasilitator sekaligus pelindung ekosistem budaya, bukan sekadar regulator.
“Budaya bukan hanya urusan seniman. Ini tanggung jawab kita bersama. Pemerintah, politisi, komunitas, hingga masyarakat umum harus bergandengan tangan. Kemajuan sebuah wilayah bisa di lihat dari perkembangan budayanya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun budaya keterbukaan. Menurutnya, kemandekan komunikasi sering terjadi ketika budaya di persempit menjadi kepentingan bisnis atau politis semata, tanpa menyentuh nilai dasar.
“Berbudaya adalah proses memanusiakan manusia. Kalau orientasinya hanya materi, maka kita kehilangan makna. Padahal budaya seharusnya mendidik, mengajak kritis, inovatif, dan kreatif,” ujarnya.
Momentum Kebangkitan di Bulan Oktober
Hari Jadi Kota Tasikmalaya pada Oktober nanti di harapkan menjadi gerbang kebangkitan budaya. Situ Gede Art Festival di proyeksikan sebagai langkah awal membuka kembali ruang-ruang dialog yang selama ini terasa stagnan.
Baca Juga: Ratusan SPPG Belum Kantongi Izin PBG Disorot DPRD Kabupaten Tasikmalaya
DKKT meyakini, tanpa kesadaran kolektif, akan terjadi pergeseran nilai yang tidak terarah. Namun dengan sinergi, budaya Tasikmalaya justru dapat mengkristal menjadi identitas yang kokoh.
“Kalau kita ingin Tasikmalaya tumbuh kuat, maka akar budayanya harus di rawat. Festival ini adalah ajakan untuk duduk bersama, merenung, dan bergerak. Karena sejatinya yang bertanggung jawab atas budaya bukan hanya satu pihak, tetapi ‘kita’,” pungkas Tatang.
Dari Situ Gede, Tasikmalaya di ajak menengok masa silam, merawat hari ini, dan menata masa depan dengan kesadaran bahwa setiap tonggak sejarah adalah penyangga batang peradaban.
(Farhan)


