BANDUNG, FOKUSJabar.id: Upaya penanganan sampah di Kota Bandung Jawa Barat (Jabar) memasuki babak baru dengan keterlibatan perguruan tinggi.
Pemerintah pusat melalui Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) menyatakan komitmen untuk turun tangan membantu persoalan tersebut.
BACA JUGA:
Satpol PP Bandung Amankan 344 Botol Minol Ilegal Selama Ramadan
Mendiktisaintek, Brian Yuliarto menyampaikan kesiapan kampus-kampus untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Bandung. Salah satu gagasan yang di siapkan adalah menerjunkan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik berbasis pengelolaan sampah.
Pernyataan itu di sampaikan Brian saat berkunjung ke Balai Kota Bandung pada Rabu 25 Februari 2026 kemarin
Dia menilai, Bandung memiliki kekuatan berupa banyaknya perguruan tinggi dan mahasiswa yang bisa di gerakkan.
“Kampus memetakan kebutuhan komposting, maggotisasi, biodigester, RDF sampai rantai pasoknya. Setelah itu, kita usulkan ke pemerintah pusat. Jadi tidak membebani APBD,” jelas Brian.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif tersebut lebih realistis di banding membangun fasilitas waste to energy berskala besar yang membutuhkan investasi Rp2–3 triliun per unit.
“Kalau model ini berhasil di Bandung, tahun depan bisa di terapkan di seluruh kota di Indonesia,” katanya.
Program ini di rancang melibatkan kampus, pemerintah pusat, Pemkot Bandung serta unsur TNI-Polri untuk pengawasan. Terutama di sektor horeka dan pasar.
Langkah penegakan hukum di siapkan bersamaan dengan pemberian insentif bagi pelaku usaha yang taat aturan.
“Kita jadikan Bandung panggung percontohan nasional. Tahun ini kita keroyok bersama,” ujarnya.
BACA JUGA:
Kondisi Terbaru Kebun Binatang Bandung, 711 Satwa Sehat
Bandung termasuk dalam lima daerah pilot project nasional bersama Bogor, Tangerang, Purwokerto dan Yogyakarta. Kolaborasi ini di harapkan mempercepat pembenahan dari hulu hingga hilir.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan, timbulan sampah mencapai 1.507,85 ton per hari. Sekitar 60 persen berasal dari rumah tangga yang di dominasi sisa makanan dan daun.
Berdasarkan evaluasi Kementerian Lingkungan Hidup, sampah yang benar-benar terkelola baru 21,63 persen.
“Mindset yang harus kita ubah adalah ‘saya sudah bayar, sampah harus hilang’. Itu keliru. Sampah bukan soal hilang, tapi harus di kelola,” sebut Farhan.
Sebagai langkah konkret, Pemkot meluncurkan program Gaslah dengan merekrut 1.597 petugas, masing-masing satu per RW.
Mereka bertugas mengedukasi warga sekaligus mengangkut minimal 25 kilogram sampah organik per hari, di dukung anggaran Rp24 miliar per tahun dan dashboard pemantauan digital.
Program tersebut terintegrasi dengan Kang Pisman, Buruan Sae dan Dapur Sehat Atasi Stunting dalam ekosistem sirkular.
“Tanpa rekayasa sosial dan enforcement, tidak akan selesai. Hulu harus beres dulu,” ujar Farhan.
BACA JUGA:
Antisipasi Lonjakan Harga, Bulog dan Pemkot Bandung Sidak Pasar Kosambi
Ia menargetkan produksi sampah per kapita yang kini 0,58 kilogram per hari bisa di tekan di bawah 0,4 kilogram.
“Kalau kesadaran tidak di bangun, teknologi apa pun nanti ambyar,” katanya.
(Jingga Sonjaya)


