spot_img
Sabtu 24 Januari 2026
spot_img

Seni Tradisi sebagai Jalan Pemulihan Mental, Yayasan Asta Mekar Luncurkan Laras Jiwa

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Di tengah meningkatnya tekanan mental yang dialami generasi muda, sebuah pendekatan tak lazim hadir dari ruang terbuka Kebon Djati Earty, Kamis (22/1/2026). Bukan seminar atau konseling formal, melainkan lantunan musik tradisi Sunda yang difungsikan sebagai sarana pemulihan batin.

Melalui program Terapi Musik Laras Jiwa, Yayasan Asta Mekar menghadirkan seni tradisi sebagai medium penyelarasan psikologis. Musik tidak diposisikan sebagai hiburan, tetapi sebagai proses terapi yang dijalani secara sadar, perlahan, dan penuh penghayatan.

Kegiatan ini melibatkan beragam unsur masyarakat mulai dari mahasiswa, seniman, akademisi, hingga unsur pemerintah daerah yang mengikuti sesi terapi selama kurang lebih 40 menit. Peserta diajak memasuki ruang keheningan, melepas alas kaki, menyentuh tanah, dan membuka indra sebagai bagian dari pendekatan earthing dan hipnosis klinis.

Ketua Pembina Yayasan Asta Mekar, Tomi Ahmad Saputra, menjelaskan bahwa Laras Jiwa lahir dari kegelisahan yang ia amati sejak masa pandemi Covid-19. Menurutnya, mahasiswa terutama generasi pasca-2000 mengalami tekanan mental yang sulit mereka ungkapkan secara verbal.

“Banyak yang gelisah, pikirannya penuh, tapi tidak tahu harus menamai apa yang mereka rasakan,” ujarnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, Asta Mekar mengembangkan terapi berbasis musik tradisi Sunda, dengan akar utama pada Calung Tarawangsa warisan Abah Oman dari Tasikmalaya. Empat laras ter[ilih dan melalui proses penelitian secara mendalam, yakni Madenda, Salendro, Degung, serta Laras Lindu, laras khas daerah Tasikmalaya.

Proses Perumusan yang Berlangsung Panjang

Proses perumusannya berlangsung panjang. Selain riset musikal, pendekatan medis dan hipnoterapi turut dilibatkan untuk memastikan musik bekerja secara terapeutik. Tempo diturunkan, teknik pukulan instrumen disesuaikan, bahkan mengalami beberapa kali revisi agar energi yang dihasilkan selaras dengan tujuan terapi.

“Energi musik untuk terapi berbeda dengan musik panggung. Itu sebabnya kami harus sangat hati-hati,” kata Tomi.

Program Laras Jiwa sendiri telah berjalan selama satu tahun dan masuk dalam skema Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai karya kreatif inovatif. Meski belum diklaim sebagai metode penyembuhan medis, Tomi menyebut mulai ada pengakuan awal bahwa seni tradisi berkontribusi positif terhadap kesehatan mental.

Peserta undangan, Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Komisi IV, Habib Qosim Nurwahab, mengaku merasakan pengalaman batin yang mendalam selama mengikuti terapi. Ia menyebut sesi tersebut membawanya pada kondisi kesadaran yang hening dan reflektif.

“Seperti kosong, tidak punya apa-apa. Rasanya sangat dalam,” tuturnya.

Ia bahkan menilai pendekatan semacam ini penting tidak hanya bagi pelajar dan mahasiswa, tetapi juga bagi para pejabat publik. Menurutnya, banyak persoalan sosial dan penyalahgunaan wewenang berakar dari kesehatan mental yang terabaikan.

Diseminasi Terapi Musik Laras Jiwa ini menegaskan bahwa seni tradisi memiliki peran lebih luas dari sekadar pertunjukan. Di saat kegelisahan sulit terucap, musik lokal hadir sebagai bahasa sunyi yang menenangkan perlahan, namun menyentuh inti batin manusia.

spot_img

Berita Terbaru