Oleh: Dr. H. Soviyan Munawar, MT
GARUT, FOKUSJabar.id: Sebagai generasi muda, kita belajar dari Isra Miraj. Bahwa kemajuan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian untuk naik kelas. Baik secara iman, nalar dan tanggung jawab sosial.
Inilah fondasi etis yang menuntun pemikiran dan sikap keberpihakan kita dalam pembangunan bangsa.
BACA JUGA: SDN 4 Sindangrasa Ciamis Gelar Peringatan Isra Miraj dengan Berbagai Kegiatan Menarik
Isra Miraj terjadi di tengah krisis, pada fase yang dalam sejarah kenabian di kenal sebagai ‘Amul Huzn’ tahun kesedihan.
Pada periode ini, Rasulullah Muhammad SAW kehilangan dua penopang utama perjuangan. Sayyidah Khadijah, istri yang senantiasa membersamai keteguhan moral dan Abu Thalib pelindung politik dan sosial.
Penolakan dan kekerasan yang di alami di Thaif semakin memperberat tekanan psikologis dan sosial.
Dalam kondisi terlemah secara manusiawi inilah, Allah SWT justru memperjalankan Nabi dalam peristiwa paling agung. Yakni sebagai penguatan ilahiah dan peneguhan misi peradaban.
Dari konteks sejarah ini, kita memahami bahwa krisis bukan tanda kegagalan. Melainkan fase seleksi kepemimpinan dan pemurnian niat.

Indonesia hari ini pun tidak kekurangan potensi. Namun membutuhkan ketahanan moral dan arah nilai. Inilah napas dari pemikiran.
Pembangunan harus berangkat dari integritas. Bukan semata statistik dari manusia bukan hanya infrastruktur.
Perjalanan ke langit tidak memutus hubungan dengan bumi. Justru kesadaran spiritual yang tinggi menuntut keberpihakan yang nyata pada rakyat.
BACA JUGA:
Membangun Ukhuwah Islamiyah, Pemkot Tasikmalaya Gelar Safari Ramadhan di Ponpes Miftahul Ulum
Shalat yang di wajibkan dalam Isra Miraj adalah disiplin peradaban, melatih kejujuran, ketepatan waktu dan tanggung jawab.
Nilai-nilai ini menjadi etos pembangunan dan pendidikan. Yakni mencetak manusia berkarakter, produktif dan berdaya saing. Sekaligus berkeadilan.
Sebagai generasi terdidik, kita tidak cukup hanya kritis. Kita harus hadir mengerjakan, menghubungkan kampus dengan kebutuhan rakyat, riset dengan kebijakan dan inovasi dengan UMKM.
Inilah kiprah nyata pendidikan yang relevan, ekonomi yang inklusif dan kebijakan publik yang berpihak pada kesejahteraan jangka panjang.
Pembangunan tanpa pendidikan yang memerdekakan akan rapuh. Ekonomi tanpa keadilan akan timpang.
Dalam ranah ekonomi dan politik, kita di tantang melampaui pragmatisme sempit. Politik harus menjadi alat pengabdian. Bukan tujuan kekuasaan.
Ekonomi harus bertumbuh tanpa meninggalkan, memperkuat produktivitas nasional, kedaulatan pangan, energi dan keberlanjutan lingkungan.
Ini adalah keberpihakan strategis. Memastikan pertumbuhan berjalan seiring pemerataan.
Isra Mi’raj menegaskan bahwa transformasi besar di mulai dari transformasi batin. Lalu menjelma menjadi kerja kolektif.
Dari iman kita menjaga integritas. Dari ilmu kita menghadirkan solusi. Dari kebijakan kita memastikan dampak. Di sinilah pemikiran, sikap dan kiprah bertemu dalam satu tujuan. Yakni, Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera berkelanjutan lintas generasi.
Akhirnya kita mengambil tekad, menjadi generasi yang naik kelas, berpikir lebih dalam, bekerja lebih jauh dan berpihak lebih jelas pada rakyat.
BACA JUGA:
Festival Ramadan Bintang Cendekia Islamic School Dibuka Wabup Garut
Karena sejatinya, kemajuan bangsa lahir dari orang-orang yang berani menyatukan nilai langit dan bumi pengabdian. Lalu konsisten merawatnya demi masa depan Indonesia.
(Penulis adalah Ketua Lembaga Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Garut)


