BANDUNG, FOKUSJabar.id: Pergantian tahun selalu menjadi momen yang ditunggu dan dirayakan oleh banyak orang di belahan dunia.
Dalam merayakannya, Mereka memiliki tradisi unik untuk mendatangkan keberuntungan saat malam pergantian tahun.
BACA JUGA:
Banyak Sampah di Alun-alun dan Objek Wisata Cipanas Garut
Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu dapat meningkatkan peluang keberuntungan. Di antaranya, kemakmuran, kebahagiaan dan kesehatan.
- Spanyol
Masyarakat Spanyol merayakannya dengan memakan 12 biji buah Anggur. Tepatnya saat pergantian tahun.
Mereka menyebutnya “las doce uvas de la suerte.” Di mana harus memakannya bersamaan dengan bunyi lonceng.

Setiap anggur mewakili satu bulan dalam setahun. Jika berhasil memakan 12 biji sebelum jam berganti ke pukul 00.01 dipercaya dapat membawa keberuntungan, kesehatan, kemakmuran.
Selain itu, dapat mendatangkan jodoh jika memakan Anggur di bawah meja.
2. Swiss
Masyarakat Swiss menjatuhkan es krim ke lantai tepat saat tengah malam pergantian tahun.

Tradisi tersebut dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan, kelimpahan dan kesejahteraan yang berlimpah.
3. Jepang
Makan mie soba (Toshiko Soba) merupakan tradisi masyarakat Jepang dalam menyambut tahun baru.
Mereka menyantap mie soba pada malam tahun baru (Omisoka). Tradisi itu sebagai simbol pemutus ketidakberuntungan.
BACA JUGA:
Tahun 2025, Bencana Hingga Kasus Hukum Warnai Kota Bandung
Konon, bentuk mie soba yang panjang dan mudah putus melambangkan harapan umur panjang, kesehatan serta keberuntungan.
Mereka menambahkan tempura udang untuk simbol umur panjang dan kekayaan.
Selanjutnya, Mereka pergi ke kuil untuk mendengarkan 108 bunyi lonceng (Joya no Kane).
Tradisi tersebut katanya sudah ada sejak zaman Edo. Dan menjadi ritual penting untuk menyambut tahun baru dengan positif.
4. Denmark
Masyarakat Denmark memiliki tradisi dalam menyambut tahun baru. Mereka memecahkan piring atau peralatan dapur bekas ke pintu rumah teman atau tetangga.
Tujuannya, untuk mengusir roh jahat dan mendatangkan keberuntungan serta kemakmuran.

Menurut Mereka, semakin banyak pecahan piring di depan pintu. Maka dipercaya kian besar keberuntungan yang akan datang.
Kabarnya, tradisi tersebut menjadi simbol persahabatan dan kebersamaan.
5. Kolumbia
Masyarakat Kolombia merayakan tahun baru dengan tradisi “Agüero.”
Pada malam 31 Desember, mereka akan meletakkan tiga kentang berbeda di bawah tempat tidur. Yakni, kentang utuh, setengah terkupas dan seluruhnya terkupas.
Saat pukul 24.00 waktu setempat, mereka akan mengambil 1 dari 3 kentang tersebut secara acak dengan mata tertutup.
Kentang utuh menandakan keberuntungan dan kemakmuran. Kentang setengah terkupas berarti keuangan sedang-sedang saja. Sementara yang sepenuhnya terkupas menunjukkan masalah finansial di tahun mendatang.
6. Yunani
Masyarakat Yunani memiliki tradisi menggantung Bawang Bombay di pintu rumah sebagai simbol keberuntungan, kemakmuran dan kelahiran kembali.
Mereka mengenal tradisi tersebut sebagai “kremmida” atau bawang liar.
Pada pagi hari, orangtua di Yunani membangunkan anak mereka dengan mengetuk kepala menggunakan bawang tersebut.
Selain itu, di Yunani ada tradisi menghancurkan buah Delima saat malam tahun baru.
Semakin banyak biji yang jatuh, maka kian besar keberuntungan yang diharapkan.
Tradisi lainnya, memotong roti spesial bernama “Vasilopita.” Yakni, roti manis yang memiliki koin di dalamnya.
Siapa pun yang menemukan koin dipercaya akan mendapat keberuntungan.
7. Brasil
Masyarakat Brasil dan negara-negara Amerika Latin biasanya memperingati tahun baru dengan makan 7 anggur dan 7 biji delima.
Konon, dipercaya dapat membawa keberuntungan, kemakmuran dan jodoh.
8. Eropa Timur
Masyarakat Eropa Timur dan Jerman memiliki tradisi makan asinan kubis (sauerkraut). Katanya dipercaya dapat menarik kekayaan dan keberuntungan.
Warna hijau pada kubis dianggap melambangkan uang. Sementara untaian panjangnya diyakini membawa kemakmuran dan umur panjang.
BACA JUGA:
Awal 2026, Serunya Bermain Jetsky di Pantai Pangandaran
Hidangan tersebut sering disajikan bersama daging babi yang melambangkan kemajuan ke depan.
Biasanya, koin bersih sering diselipkan dalam hidangan kubis tersebut.
Siapa saja yang menemukan koin saat makan dipercaya akan mendapat keberuntungan finansial yang meningkat.
9. Meksiko
Masyaralat Meksiko menyantap Tamale bersama keluarga saat memperingati Natal dan Tahun Baru.
Hidangan tersebut terbuat dari adonan tepung jagung, daging babi/ayam, keju, cabai yang dibungkus daun pisang atau jagung.
Makan Tamale saat malam tahun baru melambangkan kebersamaan dan mengharapkan keberuntungan.
Pada hari pertama tahun baru, Tamale biasanya disajikan bersama dengan sup tradisional dari perut sapi (Manudo).
Makanan tersebut melambangkan kehangatan keluarga dan berfungsi sebagai simbol keberuntungan dan kesehatan sepanjang tahun.
10. Italia
Kacang Lentil (lenticchie) sering disantap masyarakat Italia saat momen tahun baru.
Dalam budaya bangsa Romawi, lentil melambangkan keberuntungan dan kemakmuran.
BACA JUGA:
Rekomendasi Jenis dan Cara Merawat Ikan Koi
Dengan menyantapnya dipercaya akan membawa kekayaan finansial.
Hidangan tersebut biasanya disajikan sebagai sup hangat dengan tambahan daging. Terutama cotechino (sosis babi) atau zampone.
11. Indonesia
Momen malam tahun baru di Indonesia identik dengan kembang api. Meskipun ada larangan.
Mereka menyatakan, malam tahun baru tanpa kembang api kurang ramai.
Warna-warni kembang api di angkasa menambah keindahan di malam pergantian tahun.

Tak hanya itu, ada juga warga yang mendatangi Car Free Night hanya sekedar untuk membeli makanan, minuman.
Biasanya, pengunjung Car Free Night didominasi usia remaja yang ingin melewatkan pergantian tahun bersama sang kekasih.
BACA JUGA:
Monitoring Malam Tahun Baru, Farhan Pastikan Bandung Aman dan Terkendali
Momen akhir tahun juga dimanfaat banyak orang menginap di luar kota bersama keluarga. Mereka menyewa vila atau kamar hotel.
Tak lengkap rasanya, merayakan pergantian tahun tanpa meniup terompet.
Seiap tahun, bentuk terompet selalu berbeda. Ada yang berbentuk ular naga hingga tokoh kartun favorit anak-anak.
(Bambang Fouristian/berbagai sumber)


