spot_imgspot_img
Jumat 3 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Jabar Komitmen Turunkan Stunting dengan SPBE

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen menangani stunting dengan menggunakan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).

Komitmen ini berdasarkan penandatanganan bersama yang di hadiri Sekda Provinsi Jawa Barat, sekda 27 kabupaten/kota, serta para kepala perangkat daerah baik provinsi dan kabupaten/kota.

Komitmen bersama di Aula Bappeda Jabar, Senin (9/1/2023) lalu itu mengambil tema ‘Pemerintahan Digital untuk Penanganan Stunting Provinsi Jawa Barat Tahun 2023.’

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Setiawan Wangsaatmaja, mengungkap, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi balita stunting di Jabar mencapai 20,2 persen pada 2022.

BACA JUGA: Penuhi Hak Anak, Pemkot Bandung Serahkan 2.381 KIA

Angka tersebut menurun 4,3 poin dari tahun sebelumnya, yang mana pada 2021 prevalensi balita stunting 24,5 persen.

“Angka ini lebih rendah di banding nasional,” kata Setiawan Wangsaatmaja kepada wartawan, Jum’at (17/2/2023).

Di ketahui, secara nasional prevalensi stunting tahun ini, turun dari 24,4 persen di tahun 2021 menjadi 21,6 persen di tahun 2022.

“Saya pikir ini penurunan sesuatu kabar yang baik bagi kita. Namun kami juga masih ingin melihat kualitas dari angka penurunan ini,” kata dia.

Setiawan lalu mengungkap bahwa dalam digitalisasi upaya penurunan stunting juga harus ada beberapa hal yang betul- betul di perhatikan.

Pertama, data kemudian metodologi. Mulai dari keseragaman cara penimbangan badan, pengukuran tinggi badan, dan lain sebagainya.

BACA JUGA: Chatbot Pintar Solve Education! Sediakan Pendidikan Keuangan

Setelah semuanya baik, maka disitu intervensi teknologi untuk membebaskan genasi penerus dari ancaman stunting di lakukan.

Sekda berharap, di samping angka prevalensi turun, maka penurunan itu harus benar -benar berkualitas.

“Kita punya target, saat ini kita sudah mencapai 20,2 persen di tahun 2022. Di 2023 ingin menurunkan kembali di 19,2 persen. Kita semua harus bahu- membahu untuk mencapai target ini,” ujarnya.

Wilayah Jawa Barat yang kerap di sebut seperlima jumlah penduduk Indonesia maka punya populasi balita cukup besar.

Apalagi kalau Jabar bisa menurunkan stunting secara signifikan, maka tentu prevalensi di tingkat nasional juga menurun signifikan.

“Jangan di biarkan balita kita terlanjur stunting,” katanya.

Untuk itu, anak harus di berikan protein hewani, yang mana ini sangat berarti meningkatkan daya tahan balita.

“Bahkan sebelum ibu menikah, itu harus kita cek dulu kalau seumpamanya calon ibu kurang darah harus di berikan Tablet Tambah Darah (TTD) dulu,” ucapnya.

Tak hanya itu, angka pernikahan dini pada usia 15- 19 tahun pun perlu di tekan sedemikian rupa.

Dengan begitu calon ibu melahirkan anak di atas usia 20 tahun, sehingga lebih siap dan dapat mengurangi hal-hal gejala gagal tumbuh.

Atas berbagai upaya dan capaiannya, Pemda Provinsi Jabar telah di ganjar penghargaan terkait penurunan stunting se- Pulau Jawa dari BKKBN Pusat.

“Ini karena penuruan stunting yang cukup signifikan dari tahun 2021 ke 2022,” kata Setiawan.

BACA JUGA:

Stok BBM Aman, Farhan Siapkan Energi dari Sampah

Sejalan itu, Pemdaprov Jabar turut menganugerahkan penghargaan kepada sejumlah Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) kabupaten/kota yang di anggap berhasil dalam penurunan stunting di atas 10 persen.

Adapun terkait intervensi digital, Kabupaten Sumedang di anggap sebagai kabupaten yang berhasil menerapkan SPBE dan menjadikannya sebagai basis data untuk program penurunan stunting.

“Sesuai arahan presiden, aplikasi bertajuk “Simpati” yang di kelola Sumedang perlu di replikasi oleh instansi lainnya. Baik di lingkup Pemda Provinsi Jabar, bahkan hingga di kementerian,” pungkasnya.

(Budiana Martin/Anthik)

spot_img

Berita Terbaru