BANDUNG, FOKUSJabar.id: Meluruskan polemik yang terjadi di media dan media sosial, Kepala Balai Wyata Guna Sudarsono mengatakan bahwa saat ini balai yang dipimpinnya dalam proses revitalisasi fungsional.
Revitalisasi ini, kata dia, adalah program nasional untuk mengoptimalkan peran balai-balai rehabilitasi sosial milik pemerintah.
Tujuannya, masyarakat disabilitas diharapkan dapat diberdayakan dan berkiprah setelah mendapat pelayanan Rehabilitasi Sosial Lanjut di Balai Rehabilitasi Sosial.
Selama ini, kata dia, ada kesan bahwa balai rehabilitasi sosial seperti penampungan bagi disabilitas.
Padahal menurut dia, fungsi balai lebih dari itu. Balai ini diharapkan bisa mendorong kaum disabilitas berdaya sesuai dengan bidangnya.
“Kita ada program transofrmasi, perubahan status panti menjadi balai. Kita ingin balai rehabilitasi sosial ini berkontribusi secara progresif. Kemudian menjadi pijakan bagi saudara-saudara kita kaum disabilitas agar bisa mengembangkan keberfungsian sosial dan kapabilitas sosialnya sehingga bisa berkiprah di masyarakat,” kata Sudarsono melalui rilisnya, Rabu (15/1/2020).
Salah satu konsekuensi dari transformasi tersebut, adalah adanya batas waktu bagi para penerima manfaat sesuai dengan ketentuan.
Hal itu agar para penerima manfaat bisa berkumpul kembali dengan keluarganya, mandiri serta berkiprah di masyarakat.
“Ini yang kita sebut dengan proses inklusi. Kita ingin, saudara-saudara kita diterima di masyarakat,” kata dia.
Kendati demikian, pemberlakuan ketentuan mengembalikan penerima manfaat kepada keluarga atau ke masyarakat, tidak dilakukan seketika. Namun melalui proses yang panjang.
Selama di balai, mereka diberikan pelatihan dan layanan yang holistik, sistematis dan terstandar. Sehingga ketika kembali ke masyarakat, mereka mandiri.
Adapun polemik yang terjadi di Wyata Guna, sebetulnya sudah diproses secara bijaksana sejak tahun 2019. Pengelola balai, bahkan telah memberikan toleransi kepada para penerima manfaat hingga bulan Juli. Dimana mereka seharusnya meninggalkan balai sejak Juni 2019.
Pengelola balai juga sudah secara persuasif meminta penerima manfaat untuk berinisiatif mematuhi ketentuan, sebab, banyak penyandang disabilitas Sensorik Netra lainnya yang antre untuk masuk balai dan mendapatkan pelayanan.
Selain itu, pada tanggal 12 Agustus 2019, Kementrian Sosial dan Pemprov Jawa Barat juga sudah rapat untuk mencari solusi bersama.
Salah satu keputusannya adalah, Dinas Pendidikan Jabar berkomitmen membangun sarana pendidikan berkebutuhan khusus dengan konsep boarding school yang dilengkapi asrama.
Dinsos Jabar pun merencanakan pembangunan panti sosial yang melayani semua penyandang disabilitas, temasuk sensorik netra.
Pengembangan layanan terpadu nasional ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah meningkatkan pelayanan kepada penyandang disabilitas.
Namun dia menyangkan,di tengah proses peralihan dan komunikasi dengan Pemprov tersebut, mencuat isu yang justru kontraproduktif dengan langkah-langkah pemerintah.
“Kita duduk bersama, mencari solusi terbaik. Kita semua anak bangsa, tidak mungkinlah saling menegasi,” kata dia.
(LIN)