GARUT, FOKUSJabar.id: Dosen STIE Yasa Anggana, Ahmad Bajuri berbicara tentang wacana pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) Garut utara yang telah di gaungkan selama puluhan tahun.
Menurut Dia, pemekaran wilayah butuh landasan kokoh. Artinya harus di kaji secara menyeluruh, mendalam dan objektif melalui pendekatan Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan dan Keamanan (Ipoleksosbudhankam).
BACA JUGA:
Sekolah Sungai Cimanuk Garut Sosialisasi Peduli Api
Secara pandangan politik, pemekaran hadir sebagai jawaban atas tantangan jarak dari ujung utara ke pusat pemerintahan Kabupaten Garut.
“Dengan luas wilayah mencapai 3.065,19 km² jarak tempuh dari ujung utara ke pusat pemerintahan Kabupaten Garut bisa memakan waktu tiga jam perjalanan. Ini tentunya menghambat kecepatan pelayanan dan pengawasan,” kata mantan Sekretaris Jenderal Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi).
Bajuri mengungkapkan, pemekaran Garut Utara jangan seperti daerah lain yang terjerat ketergantungan karena kemampuan ekonomi belum matang. Sehingga menjadi beban bagi kabupaten induk dan keuangan negara.
“Saya ingin Garut Utara berdiri tegak dengan kakinya sendiri, bukan terus bergantung pada tongkat bantuan,” imbuhnya.
Selanjutnya dalam aspek sosial, pemekaran tidak mengganggu ikatan budaya serta kehidupan bermasyarakat yang telah terjalin ratusan tahun dan dari sisi hukum harus berjalan di atas koridor peraturan perundang-undangan.
Dari sisi pertahanan dan keamanan, penataan wilayah baru harus memperkuat ketahanan nasional. Bukan menciptakan celah pengawasan atau tumpang tindih kewenangan.
“Ipoleksosbudhankam bukan sekadar akronim, melainkan cermin untuk melihat apakah sebuah rencana layak di wujudkan atau masih perlu di perbaiki,” tegas Bajuri.
BACA JUGA:
Sekretaris Dispora Garut Jagoin Belanda Juara Dunia 2026
Mantan Ketua DPRD Garut ini menambahkan, kebijakan moratorium sering di pandang sebagai tembok penghalang. Padahal sebenarnya pemerintah memberikan waktu untuk mematangkan atau menyempurnakan semua syarat DOB.
“Jika mampu melaksanakan kajian Ipoleksosbudhankam, maka Garut Utara tidak hanya menjadi sebuah nama wilayah baru. Tetapi juga menjadi contoh daerah yang lahir dari kesiapan,” pungkas Bajuri.
(Bambang Fouristian)



