spot_imgspot_img
Jumat 8 Mei 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

P2APC Minta Program MBG di Ciamis Libatkan Peternak Lokal Secara Langsung

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sejauh ini belum memberikan dampak positif yang signifikan bagi para peternak lokal di Kabupaten Ciamis. Meski data (17/4/2026) Korrdinator SPPG Ciamis Egy Armand Ramdani menyatakan 161 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi secara penuh, angka penyerapan produk peternakan asli daerah masih tergolong sangat rendah.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Disnakkan Ciamis, drh. Asri Kurnia, mengungkapkan peternak di Ciamis memproduksi telur ayam mencapai 40 ton setiap harinya.

Baca Juga: Kontingen Sindangkasih Borong Medali, Sabet Juara Umum O2SN Ciamis

Namun, Asri mengakui bahwa dapur MBG di Kabupaten Ciamis baru menyerap sekitar 7 persen dari total produksi telur lokal. Angka ini berbanding terbalik dengan serapan pasar atau konsumsi masyarakat umum yang mampu mencapai 60 persen dalam lima tahun terakhir.

Akses Langsung ke Dapur SPPG

Dari total produksi telur ayam 40 ton setiap harinya, Paguyuban Peternak Ayam Petelur Ciamis (P2APC) sendiri menyumbang sekitar 23 ton telur per hari. Sekretaris P2APC, Teten, menyatakan pihaknya telah dua kali mengikuti rapat koordinasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Pertanian, dan Bapanas. P2APC terus mendorong BGN agar memasukkan menu telur minimal dua kali dalam seminggu guna meningkatkan serapan produksi lokal.

“Kami sangat berharap peternak bisa memutus mata rantai distribusi dan langsung memasok ke end user melalui SPPG,” tegas Teten, Jumat (8/5/2026).

Teten menjamin, peternak lokal sudah memenuhi seluruh persyaratan teknis yang dibutuhkan Dapur SPPG, mulai dari legalitas suplier, standar kualitas, hingga konsistensi kuantitas pasokan.

Terjepit Biaya Pakan dan Harga Kandang

Kondisi peternak saat ini semakin terjepit karena harga jual telur di tingkat kandang mengalami penurunan, sementara harga pakan terus meroket. Teten menjelaskan bahwa Harga Pokok Produksi (HPP) kini menyentuh angka Rp23.000 per kilogram akibat kenaikan harga jagung dan konsentrat.

Ironisnya, harga jual di tingkat kandang saat ini hanya berkisar antara Rp23.500 hingga Rp24.000 per kilogram. Padahal, pemerintah menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram. Di sisi lain, harga di pasar konsumen tetap tinggi pada kisaran Rp28.000 hingga Rp29.000 per kilogram.

Kehadiran 161 unit SPPG di Ciamis seharusnya menjadi solusi strategis untuk menyerap hasil bumi lokal. Jika dikelola secara optimal, program MBG mampu menyelamatkan ekonomi peternak lokal sekaligus menjamin kualitas asupan gizi bagi masyarakat.

(IrfansyahRiza)

spot_img

Berita Terbaru