BEKASI,FOKUSJabar.id: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi menjamin stok obat di seluruh fasilitas kesehatan berada dalam kondisi aman untuk melayani masyarakat sepanjang tahun 2026. Jaminan ini muncul setelah pemerintah daerah melakukan perencanaan pengadaan yang matang serta meningkatkan alokasi anggaran secara signifikan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, dr. Arief Kurnia, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyusun Rencana Kebutuhan Obat (RKO) sejak tahun 2025. Dinkes menghimpun data langsung dari seluruh puskesmas guna memastikan pengadaan obat sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan dan pagu anggaran yang tersedia
Baca Juga: 745 Pelajar Ikuti Seleksi Paskibraka Kabupaten Bekasi Tahun 2026
“Kami memastikan stok obat di puskesmas mencukupi. Sistem RKO membantu kami menyesuaikan kebutuhan dengan anggaran agar distribusi obat berjalan efektif dan tepat sasaran,” ujar dr. Arief, Kamis (16/4/2026).
Lonjakan Anggaran Dukung Ketersediaan Obat
Pemerintah Kabupaten Bekasi memberikan dukungan penuh melalui peningkatan alokasi anggaran tahun 2026 yang mencapai hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Tambahan dana ini memperkuat kemampuan daerah dalam menyediakan obat-obatan esensial, terutama untuk layanan kesehatan dasar.
Kepala UPTD Gudang Farmasi Kabupaten Bekasi, Atik Ardianto, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengamankan sekitar 80 persen kebutuhan obat hingga triwulan pertama tahun ini. Kondisi stok di gudang saat ini sangat memadai dan siap mengalir ke berbagai unit pelayanan.
“Alhamdulillah, stok tiga bulan pertama aman. Kami segera mendistribusikan obat-obatan ini ke seluruh puskesmas dan UPTD kesehatan,” ungkap Atik.
Tantangan Distribusi dan Pertumbuhan Penduduk
Atik mengakui bahwa pertumbuhan penduduk yang pesat di Kabupaten Bekasi memicu kenaikan permintaan obat setiap tahunnya. Saat ini, UPTD Farmasi harus melayani lebih dari 50 unit puskesmas, termasuk layanan darurat PSC dan poliklinik milik pemerintah daerah.
Meski distribusi berjalan rutin dan terjadwal, petugas masih menghadapi kendala teknis terkait sarana prasarana, seperti akses masuk gudang yang sempit. Namun, Atik menegaskan bahwa tantangan fisik tersebut tidak mengganggu jalannya penyaluran obat ke fasilitas kesehatan.
“Kami melakukan distribusi secara terencana agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan lancar. Fasilitas kesehatan mengambil stok sesuai dengan jadwal dan permintaan yang telah mereka ajukan,” tambahnya.
Melalui dukungan anggaran yang lebih kuat dan perencanaan sistematis, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi optimis mampu menjaga ketahanan stok obat sepanjang tahun guna menjamin mutu layanan kesehatan bagi seluruh warga.
(Jingga Sonjaya)



