spot_img
Senin 9 Februari 2026
spot_img

Perbasi Jabar Butuh Sosok Pemimpin ‘Gila Basket’

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Sosok pemimpin yang berasal dari pelaku olahraga bola basket menjadi figur yang di butuhkan untuk memimpin kepengurusan Persatuan Olahraga Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Provinsi Jawa Barat 2025-2029.

Seperti diketahui, kepengurusan Perbasi Jabar di bawah kepemimpinan Efriyanto sudah habis masa bakti dan akan segera menggelar Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov).

Rencananya, musorprov Perbasi Jabar akan di gelar pertengahan Februari 2026.

BACA JUGA:

PBPI Jabar Diminta Tingkatkan Pembinaan Prestasi

Tokoh olahraga bola basket Jawa Barat, Guntur Rahmadi berharap, Musorprov Perbasi Jabar bisa melahirkan sosok pemimpin (ketua umum) yang mumpuni.

Pasalnya, organisasi yang baik bisa mendukung pada pencapaian prestasi olahraga yang baik.

“Kalau kita berbicara tentang organisasi olahraga bola basket, itu cukup unik. Kota dan kabupaten itu punya karakter dan kekuatan masing-masing. Sehingga kepengurusan di provinsi harus mampu mengoptimalkannya,” kata Guntur, Senin (9/2/2026).

Ketua Umum Perbasi Kota Banjar tiga periode (2008-2020) ini menuturkan, sosok pemimpin organisasi bola basket di Provinsi Jabar harus memiliki blue print pembinaan yang tepat.

Tidak hanya sosok pemimpin yang kuat dari sisi finansial ataupun pengaruh kekuasaan.

“Ketua di level Provinsi Jabar itu harus peka memahami dan melihat setiap potensi maupun permasalahan olahraga bola basket. Sosok yang memang lahir dan besar di dunia bakset, sosok yang passionnya memang di basket. Kalau saya menyebutnya orang basket murni bukan (masuk) basket karena politik atau popularitas,” kata anak dari mantan Wali Kota Banjar, Herman Sutrisno.

BACA JUGA:

Juara Baru Warnai MilkLife Soccer Challenge Bandung Seri 2

Dengan latar belakang sebagai orang yang bergelut dan menyukai olahraga basket, Guntur meyakini jika sosok tersebut mampu memahami karakter dan permasalahan serta menjadi pemersatu dari semua kekuatan olahraga bola basket di Jabar. Di banding sosok yang hanya menjadikan bola basket sebagai kendaraan politik atau popularitas semata.

“Pembinaan di daerah itu sebenarnya sudah berjalan. Tapi kalau kebijakan yang di keluarkan di tingkat provinsi tidak memahami karakter hingga kemampuan kota dan kabupaten ya akan sulit. Itu yang terjadi sekarang, banyak kota dan kabupaten yang tidak bisa ikut kebijakan Pengprov Perbasi saat ini,” tegas Guntur.

Guntur menambahkan, pola pembinaan yang di terapkan Perbasi Jabar saat ini di nilai kurang pas. Perbasi Jabar yang menerapkan pembinaan olahraga bola basket melalui kompetisi dengan format divisi di nilai kurang tepat.

Alasannya, kemampuaan setiap kota dan kabupaten di Jabar untuk mengikuti kompetisi memiliki perbedaan. Terlebih lagi, kebijakan PB Perbasi terkait pembinaan olahraga bola basket melalui kompetisi menggunakan format wilayah. Di mana Jabar tergabung di wilayah Jawa.

“Kalau menggunakan format divisi, banyak kota dan kabupaten kesulitan. Misalnya Pangandaran dan Ciamis yang tergabung di Divisi II yang di gelar di Kota Depok, dari sisi pendanaan jelas kesulitan. Sehingga kebutuhan-kebutuhan untuk atlet pun tidak masksimal. Dampaknya, performa atlet pun tidak akan maksimal,” kata Guntur.

Hal berbeda, akan terjadi jika pembinaan olahraga melalui kompetisi menggunakan format wilayah. Setiap kota/kabupaten di pastikan akan lebih maksimal karena dari sisi pembiyaan pun akan lebih murah.

Tidak hanya dari sisi akomodasi maupun transportasi, yang paling penting adalah pemenuhan nutrisi bagi atlet. Sehingga bisa tampil lebih maksimal.

“Kemampuan anggaran setiap kota/kabupaten berbeda. Apalagi saat ini dengan kendala efisiensi anggaran,” sebutnya.

Tak hanya itu, Guntur melihat jika keberlangsungan pembinaan secara berjenjang dan berkelanjutan di level provinsi pun tidak berjalan semestinya.

Dengan format divisi yang di terapkan serta kondisi anggaran yang berbeda, maka setiap kota/kabupaten di pastikan akan memilih dan memilah untuk mengirim tim terbaiknya untuk mengikuti program yang di siapkan Pengprov Perbasi Jabar.

BACA JUGA:

Hitung Mundur Porprov XV Jabar, Bekasi Tegaskan Kesiapan Tuan Rumah

Kondisi ini membuat data base pemain bola basket di Jabar tidak akan terpantau secara utuh oleh Pengprov Perbasi Jabar. Data base pemain sangat penting sebagai bekal Perbasi Jabar dalam menyiapkan kerangka tim untuk perhelatan kompetisi di level nasional.

“Inilah yang menyebabkan beberapa atlet bola basket potensial asal Jabar banyak yang pindah ke provinsi lain, karena tidak terdata dan luput dari pantauan. Contohnya, Fathir yang asalnya dari Kabupaten Bogor tapi sekarang justru membela Jakarta. Ini seharusnya tugas dari Perbasi jabar membentenginya,” kata Guntur.

Kondisi yang terjadi dalam pembinaan olahraga bola basket di Jabar menjadi salah satu penyebab dari kegagalan di dua gelaran terakhir PON.

Pada dua gelaran multieven olahraga terbesar di Indonesia tersebut, bola basket Jabar gagal meraih medali emas.

Yakni pada PON XX tahun 2021 di Papua, bola basket Jabar hanya meraih medali perak nomor 3×3 putra empat nomor yang di pertandingkan dan tiga medali perunggu pada PON XXI tahun 2024 di Sumut dan Aceh.

Sebelumnya, pada PON XVIII tahun 2012 dan PON XIX tahun 2016, bola basket Jabar selalu berhasil menyumbangkan medali emas.

“Kegagalan di PON ini tidak lepas dari kepemimpinan Perbasi Jabar yang saya nilai tidak memiliki power dan evaluasi pada setiap tahapan. Sehingga lost control. Karena itu, Perbasi Jabar ke depan butuh sosok yang memang orang basket murni. Bukan politisasi atau popularitas. Sosok yang memang dari basket untuk basket, sosok yang gila basket,” pungkas Guntur.

(ageng)

spot_img

Berita Terbaru