LUMAJANG, FOKUSJabar.id: Pos pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru melaporkan telah terjadi erupsi beruntun Gunung Semeru sebanyak 7 kali sejak Rabu (4/2/2026) sejak pukul 04.48-08.02 WIB.
Ketinggian kolom letusan teramati 300-800 meter di atas puncak gunung Semeru.
BACA JUGA:
8 Penambang di Bangka Tertimbun Tanah Longsor
Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal ke arah timur laut.
Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi hingga 138 detik.
Sedangkan hasil laporan kegempaan pada periode pengamatan pukul 00.00-06.00 WIB menyebutkan, 20 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-22 mm dan lama gempa 72-152 detik.
Tercatat juga 1 kali gempa guguran dengan amplitudo 5 mm dan lama gempa 76 detik.
Gempa embusan terekam sebanyak 7 kali dengan amplitudo 3-7 mm, dan lama gempa 40-101 detik.
Selain itu terekam 4 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 5-30 mm, S-P 13-41 detik dan lama gempa 33-147 detik.
“Tingkat aktivitas masih tetap di level siaga,” kata Pelaksana Harian Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geolog (PVMBG) Badan Geologi, Edi Slameto di kutip tempo.co.
BACA JUGA:
BMKG: Hari Ini Kota Besar di Indonesia Berpotensi Hujan
Pada tingkat aktivitas Level III ini, PVMBG mengeluarkan beberapa rekomendasi. Yakni, tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat di minta untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
Masyarakat juga di minta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
(Bambang Fouristian)


