spot_img
Rabu 24 Juli 2024
spot_img
More

    Soal Pengembangan Kawasan Rebana, Ini Saran dari Apindo Jabar

    BANDUNG,FOKUSJabar.id: Para pengusaha Jawa Barat yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memberikan saran dan catatan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait pengembangan wilayah ekonomi baru yang dinamakan kawasan Metropolitan Rebana. Hal tersebut diungkapkan Ketua Apindo Jabar, Ning Wahyu A usai acara Halal Bi Halal di El Royal Hotel, Jalan Merdeka Kota Bandung, Senin (15/5/2023) malam.

    “Setidaknya ada dua hal pokok yang harus diperhatikan agar para investor mau menanamkan investasinya di Jabar, khususnya di kawasan Rebana. Upah dan infrastruktur,” kata Ning.

    Jika dibandingkan dengan daerah terdekat yakni Jateng, Ning menyebut jika Jabar masih kalah. Selain dari sisi upah pekerja di Jateng yang lebih rendah dibanding Jabar, infrasruktur lainnya pun relatif lebih bagus.

    “Memang ada wilayah yang upah pekerjanya murah atau rendah juga di Jabar, tapi dari sisi infrastruktur masih belum memadai dan mendukung,” Ning melanjutkan.

    Untuk itu, pihaknya akan terus berupaya bekerjasama dengan pemerintah agar Jabar bisa memenangkan persaingan dengan daerah-daerah terdekat. Khususnya dengan Jateng.

    “Saat ini, Pemprov Jabar sedang gencar-gencarnya mempersiapkan Rebana dan bagaimana kawasan tersebut bisa membuat investor tertarik. Salah satunya, bagaimana infrastruktur pendukungnya bisa disiapkan dengan lebih baik,” kata dia.

    BACA JUGA: Konsisten Dukung UMKM Bandung, JNE Gelar Goll..Aborasi Creativolution

    fokusjabar.id Apindo Jabar Rebana
    (FOTO: Ageng)

    Seperti diketahui, Kawasan Rebana merupakan sebuah wilayah metropolitan pengembangan baru berbasis perkotaan yang dirancang Gubernur Jabar, Ridwan Kamil dengan berbasis perkotaan inti Cirebon-Patimban-Kertajati ditambah lima daerah penyangga seperti Kabupaten Cirebon, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Kuningan. Tujuan pengembangan Kawasan Rebana untuk mewujudkan motor pertumbuhan ekonomi wilayah Jabar bagian timur-utara berbasis pada pengembangan investasi yang terintegrasi, inovatif, kolaboratif, berdaya saing tinggi, dan berkelanjutan.

    Memiliki luas kawasan lebih dari 43.000 ha dengan 13 zona industri, Kawasan Rebana secara strategis sudah terhubung dengan infrastruktur penunjang konektivitas kawasan. Yakni jalan tol trans jawa, jalur kereta api ganda, terminal barang dan penumpang, serta infrastruktur penunjang lainnya seperti bendungan, geothermal, Hydro Power Plant, Kilang Minyak Balongan, Tempat Pembuangan Akhir.

    Selain itu disiapkan tiga hub utama yaitu Pelabuhan Patimban, Bandara Internasional Kertajati, Pelabuhan Cirebon. Selain didukung dengan konektivitas kawasan, Rebana juga menaungi 81 proyek setara Proyek Strategis Nasional yang terdapat pada Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2021.

    “Masih banyak yang harus didiskusikan bersama soal Rabana ini agar mampu menyedot investor sesuai harapan dan proyeksi bersama yakni dapat mendongkrak perekonomian hingga 7,16 persen, membuka peluang 4,39 juta lapangan pekerjaan, dan meningkatkan investasi melalui peningkatan pertumbuhan perekonomian sebesar 7,77 persen di tahun 2030. Karena itu, pemerintah harus terus berupaya membangun infrstruktur yang memadai dan kolaborasi dengan kami sehingga tahu apa yang diinginkan pengusaha,” Ning memaparkan.

    Hal penting lain yang harus diperhatikan pemerintah yakni terkait dengan upah. Untuk itu, dibutuhkan peran dari tripartit yakni pemerintah, pekerja, dan pengusaha dalam menetapkan kebijakan terbaru sehingga besaran upah di Jabar ini lebih kompetitif.

    “Selain infrastruktur dan upah, yang harus dipikirkan juga adalah ketersediaan SDM yang mumpuni dan sesuai dengan yang dibutuhkan industri disana nanti. Terkait hal ini, banyak pengusaha-pengusaha yang menanyakannya kepada kami,” kata Ning.

    Untuk itu, kata dia, pihaknya akan mengajak pemerintah bersama dengan pengelola Kawasan Rebana untuk duduk bersama mencari solusi dari hal tersebut. Apakah membuat suatu politeknik, vokasi, LPK, lalu merekrut orang untuk disiapkan sebagai karyawan yang nanti disalurkan ke perusahaan-perusahaan di daerah tersebut atau seperti apa.

    “Terakhir, apakah pemerintah berani memberikan tax policy, sehingga harga tanah bisa lebih kompetitif agar pengusaha yang mau merelokasi pabriknya ke kawasan Rebana semakin tertarik,” kata Ning.

    (Ageng)

    Berita Terbaru

    spot_img