spot_img
Jumat 12 Agustus 2022
spot_img
More

    HAN 2022: Stunting Tolak Ukur Kesejahteraan Masyarakat

    Oleh: Aneu Nursifah

    GARUT,FOKUSJabar.id: Keputusan Presiden (Keppres) No44/1984 (Presiden Soeharto) menetapkan, tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN).

    Momen HAN menjadi sebuah refleksi tentang perlindungan dan kesejahteraan anak di Indonesia.

    Anak merupakan generasi sekaligus aset Negara yang akan menentukan bagaimana nasib masa depan bangsa.

    BACA JUGA: Pernikahan Dini Picu Tingginya Angka Stunting

    Namun, fenomena kasus pada anak hingga hari ini masih terus terjadi. Mulai dari stunting hingga kasus kekerasan hingga menyebabkan trauma. Baik secara fisik maupun mental.

    Terlebih, semenjak adanya krisis kesehatan dan krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19, anak-anak menjadi salah satu terdampak. Terutama dari segi pertumbuhan dan perkembangannya.

    Di beberapa daerah, permasalahan stunting hingga kini kasusnya terus meningkat.

    stunting fokusjabar.id
    Ilustrasi Hari Anak Nasional (foto web)

    Melansir katadata, dari hasil survey menunjukkan, tahun 2021 kasus stunting di Provinsi Jawa Barat (Jabar) mencapai angka 24,5 persen.

    Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan angka yang sudah ditetapkan oleh standar World Health Organization (WHO) yaitu sekitar 20 persen.

    Dari beberapa daerah di Jabar, Kabupaten Garut menjadi wilayah dengan prevalensi Balita yang mengalami stunting tertinggi (35,3 persen).

    Sungguh ironi memang, anak-anak ini harus mendapatkan dampak dari kemalangan dan kurangnya kesejahteraan.

    Kasus yang terjadi pada anak ini terjadi bukan tanpa sebab. Jika menilik unsur kausalitas secara ilmiah, stunting terjadi akibat adanya kekurangan gizi kronis.

    Dan berdasarkan dugaan, tingginya kasus stunting di Kabupaten Garut terjadi karena minimnya pola asuh yang baik dan faktor ekonomi sosial masyarakat yang relatif rendah.

    Realita tersebut menjadi bahan renungan sekaligus dorongan untuk lebih memperhatikan kondisi masyarakat yang masih jauh dari kata sejahtera.

    Karena kondisi tersebut berdampak sangat buruk terhadap tumbuh kembang anak yang semestinya mendapatkan asupan gizi yang layak.

    Tingginya angka kejadian stunting pada anak menjadi tolak ukur kesejahteraan masyarakat.

    Hal ini berbanding lurus, karena kasus ini tidak mungkin terjadi jika masyarakatnya sejahtera.

    BACA JUGA:

    Angka Stunting di Jabar Tinggal 13 Persen

    Dalam momentum Hari Anak Nasional ini, harapan yang sangat besar untuk kesejahteraan masyarakat dan anak Indonesia.

    Mari kita bersama menjaga dan melindungi generasi harapan masyarakat Indonesia.

    (Penulis adalah Kepala Divisi Hukum KPU Kabupaten Garut)

    Berita Terbaru

    spot_img
    spot_img