GARUT,FOKUSJabar.id: Keberadaan Pondok Pesantren (Ponpes) sangat diperlukan dan memiliki peranan penting dalam kehidupan generasi muda khususnya. Bagaimana tidak, di era modern yang serba digital ini kita dapat dengan mudah dan cepat mendapatkan informasi atau budaya barat yang bertolak belakang dengan budaya orang timur (Indonesia-red).
Diakui atau tidak, kini masyarakat terutama yang berada di perkotaan sudah termakan budaya luar (barat). Gaya hidup yang glamor dengan gemerlapnya ‘kehidupan malam’ sangat bertolak belakang dengan kehidupan bangsa Indonesia yang mayoritas pemeluk agama Islam.
Hal tersebut diperparah dengan tidak ditemukannya lagi budaya gotong royong yang menjadi ikon bangsa Indonesia. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, lebih mengarah ke individualisme (perorangan). Karenanya, keberadaan dan peranan Pondok Pesantren sangat dibutuhkan saat ini.
FOKUSJabar mencoba menggali informasi dari Ponpes Al-Musaddiyah yang berada di Jalan Mayor Syamsu No2, Kelurahan Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut Jawa Barat.
Pimpinan Ponpes Siswa Al-Musaddadiyah, Yies Sa’diyah, M.Pd mengatakan, pihaknya mengajarkan atau mendidik 400 santriwan/wati berbagai ilmu pengetahuan tentang Islam juga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) untuk menyongsong pembelajaran Abad-21.
BACA JUGA: 15 SMA/SMK di Garut Mulai Belajar Tatap Muka
“ Kami suguhkan pembelajaran/pengetahuan tentang Islam dan Iptek untuk menghadapi pembelajaran Abad-21,” kata Yies.
Menurut Yies, dalam menyongsong pembelajaran abad 21, guru harus mampu menyiapkan generasi abad 21 dengan menempatkan tiga subjek utama dalam pembelajaran. Yakni, keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan memanfaatkan informasi, media dan teknologi serta keterampilan hidup dan berkarier.
Berikut karakter pembelajaran abad 21 (4 C):
Communication (Komunikasi)
Pada karakter ini, peserta didik dituntut untuk memahami, mengelola dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan dan multimedia.
Peserta didik diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya. Baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah yang diberikan oleh pendidik.
Collaboration (Kerjasama)
Pada karakter ini, peserta didik menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab; bekerja secara produktif dengan yang lain; menempatkan empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda.
Peserta didik juga menjalankan tanggungjawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat; menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain.
Critical Thinking and Problem Solving (Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah)
Pada karakter ini, peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami interkoneksi antara sistem.
Peserta didik juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, peserta didik juga memiliki kemampuan untuk menyusun, mengungkapkan, menganalisa dan menyelesaikan masalah.
Creativity and Innovation(Daya cipta dan Inovasi)
Pada karakter ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.
Selain peralihan sistem pembelajaran, pada abad ini pun terjadi pergeseran tujuan pendidikan dimana pada abad ke 19 yang dikenal sebagai era industri, penyelenggaraan pendidikan bertujuan untuk mempersiapkan orang dalam dunia sederhana, statis/linier, dan predictable (dapat diramalkan).
Peserta didik diharapkan dapat melakukan kegiatan-kegiatan dengan perilaku yang rutin. Dampak dari pola pendidikan ini adalah kemampuan output yang standar sehingga kecakapan yang dimiliki merupakan kecakapan standar.
Sehingga pada abad 21 saat ini yang bisa disebut sebagai era pengetahuan, maka tujuan pendidikannya pun adalah:
1) mempersiapkan orang dalam dunia pasang surut, dinamis, unpredictable (tidak bisa diramalkan).
2) perilaku yang kreatif.
3) membebaskan kecerdasan individu yang unik
4) menghasilkan inovator.
Dengan demikian, model sekolah pada abad ini mengharapkan pendidikan dapat menjadikan individu-individu yang mandiri, sebagai pelajar yang mandiri.
Yies menyebut, jebolan Ponpes Al-Musaddiyah yang notabene merupakan hadiah dari kesultanan Brunei Darussalam, selain handal di bidang ilmu Agama Islam juga tidak Gagap Teknologi (Gaptek), sehingga melahirkan santiwan/wati yang bisa diandalkan dan peka terhadap perkembangan zaman.
“ Insya Allah, jebolan Ponpes Al-Musaddadiyah menguasai iptek yang dibarengi dengan Iman dan Taqwa (Imtaq),” imbuhnya.
Ponpes Al-Musaddadiyah berdiri di atas lahan seluas 11 Ha (4 Ha lingkungan Pesantren dan 7 Ha Fasilitas lainnya) memiliki beberapa fasilitas. Di antaranya, klinik, gedung serba guna, pendidikan formal dimulai MI, Tsanawiyah, Aliyah hingga perguruan tinggi, server dan masjid besar yang bisa menampung jemaah 5 ribu orang.
“ Alhamdulillah, dari 400 santriwan dan santriwati yang ada dalam mengikuti pendidikan formal hampir 98 persen sekolah di sini,” ucap dia.
Terkait menghadapi pembelajaran Abad 21, pihaknya sudah menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) serta fasilitas penunjangnya (komputer dan internet).
“ Untuk menghadapi pembelajaran Abad-21, Kami sudah menyiapkan SDM dan fasilotas penunjangnya. Hanya saja fasilitas yang Kami punya belum optimal,” kata Yies.
Bebas Covid-19
Menyusul klaster Pondok Pesantren positif Corona Virus Disease (Covid-19) di sejumlah daerah, di Ponpes Al- Musaddadiyah tak satu orang pun terpapar virus mematikan yang pertama kali ditemukan di Wuhan China.
Bahkan, sejak Tahun Ajaran Baru 2020 di Ponpes Al-Musaddiyah proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dilakukan normal (tatap muka). Hanya saja dilakukan dengan Protokol Kesehatan (Prokes) Covid 19.
Selain itu, kata Yies, pihaknya pun memperketat penjagaan. Di mana orangtua siswa tidak diperkenankan memasuki kawasan Ponpes (para santri yang menghampiri orangtua mereka yang menjenguk).
Pihaknya pun mewajibkan para santri (siswa) berdzikir mengamalkan ayat-ayat Al-Quran yang mengandung arti tentang kesehatan.
“ Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Kami di sini tidak berbaur dengan masyarakat. Tak hanya itu, di sini terdapat dua buah pintu gerbang yang dijaga ketat, sehingga tidak sembarang orang bisa memasuki kawasan Ponpes,” terang Yies.
“ Tetap jalankan dan patuhi 3M (Memakai masker, Mencuci tangan memakai sabun di air mengalir dan Menjaga jarak). Semoga pandemi Covid-19 segera berlalu menuju Indonesia maju,” pungkas Yies Sa’diyah.
(Andian/Bambang)


