spot_imgspot_img
Jumat 24 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Soal Kalung Eucalyptus, DPR Ingatkan Mentan Fokus Pada Pangan

JAKARTA,FOKUSJabar.id: Kalung eucalyptus yang dikembangkan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan) diklaim Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mampu menangkal Covid-19.

DPR pun menyarankan agar Mentan fokus pada sektor pertanian yang menjadi tugasnya. Tidak hanya itu, dewan pun mengingatkan agar tidak ada penggunaan APBN untuk kepentingan eucalyptus itu, apalagi Mentan mengatakan akan memproduksi massal.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI  Daniel Johan mengatakan bahwa pernah sepintas Mentan membahas soal kalung itu dalam rapat bersama Komisi IV. Saat itu komisi IV menyarankan agar fokus menyejahterakan petani.

“Fokus saja ke pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.  Terserah saja (diproduksi massal) selama nggak pakai APBN,” kata Daniel di Jakarta, Senin (6/7/2020).

BACA JUGA: Kementan Kembangkan Produk Eucalyptus

Di sisi lain Kementan akan menggandeng PT Eagle Indo Pharma (Cap lang) untuk memproduksi kalung antivirus itu. Perjanjiannya sudah diteken lisensi formula antivirus berbasis minyak eucalytus di Bogor pada pertengahan bulan Mei 2020.

DPR mempertanyakan apa keuntungan Kementan dan PNBP yang harusnya ada.

Anggota Komisi IV dari Fraksi PKS Andi Akmal Pasluddin mengkritik rencana produksi massal kalung antivirus itu. Kolega sefraksi Andi, yakni Mardani Ali Sera juga menyarankan senada.

Mereka mengingatkan, tugas Mentan adalah mengurus pangan, bukan urusan antivirus yang  perlu diuji dulu secara ilmiah.

“Publik harus tahu dan Komisi IV tahu apakah sudah melalui kajian yang dalam, apakah sudah dipraktikkan juga ke orang-orang yang kena Corona bahwa dengan adanya kalung itu tidak kena. Itu kan harus ada penjelasan ya,” kata Andi Akmal Pasluddin, di kesempatan terpisah.

Bukan Anti Corona

Anggota Komisi IX DPR RI Muchamad Nabil Haroen (Gus Nabil) pun mengingatkan bahwa Kementan harus menunjukkan basis riset terkait inovasi kalung anti-Corona yang dipublikasikannya.

Jangan alih-alih ingin berinovasi, tapi malah memancing pro-kontra karena kurang basis risetnya. Terlebih, kata dia, pengungkapan inovasi tanpa hasil riset akhirnya menjadi bulan-bulanan kritikan.

“Kementan harus berhati-hati dan mendasarkan pada riset yang jelas sebelum mengeluarkan inovasi untuk publik,” kata Nabil.

Dari sisi kedokteran, Dekan Fakultas Kedokteran UI Ari Fahrial Syam mengatakan, kalung eucalyptus jangan asal diklaim mampu menangkan virus.

Dia mengatakan produk-produk kayu putih inhaler, roll on yang sebagian sudah disetujui BPOM itu tetap keberadaannya bukan sebagai antivirus. 

Dia tidak setuju jika kalung eucalyptus disebut sebagai kalung antivirus.

Masyarakat juga tidak boleh skeptis atas hasil penelitian in vitro bahwa eucalyptus (minyak kayu putih) ada efek positif untuk corona. Tetapi tidak boleh berlebihan menganggap hasil penelitia in vitor ini langsung diklaim sebagai antivirus corona.

“Cukup disebut kalung kayu putih atau kalung eucalyptus. Saya berharap riset eucalyptus ini berlanjut, karena minyak kayu putih memang sudah kita gunakan sejak dahulu kala, dan sampai hari ini untuk berbagai masalah kesehatan,” kata Ari.

Sebaliknya, Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry mengatakan, sampai saat ini banyak negara berlomba menemukan antivirus corona termasuk Indonesia.

Maka, pemerintah melalui kementerian atau lembaga terus mencoba mencari cara dan menemukan obat untuk mencegah serta menangani virus corona tersebut.

Balitbang Kementan menemukan inovasi kalung eucalyptus. Eucalyptus selama ini dikenal mampu bekerja melegakan saluran pernapasan, menghilangkan lendir, pengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual dan mencegah penyakit mulut.

Mentan yakin kalung itu bisa membunuh virus corona.

“Jadi ini bisa membunuh, kalau kontak 15 menit dia bisa membunuh 42 persen dari Corona. Kalau dia 30 menit maka dia bisa 80 persen. Ini ada roll-nya. Kalau kita kena iris pisau, berdarah, kasih ini bisa tertutup lukanya,” kata Mentan usai bertemu Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Jumat.

(**)

spot_img

Berita Terbaru