JEPANG, FOKUSJabar.id: Sedikitnya 100 orang tewas, puluhan orang masih di nyatakan hilang akibat hujan lebat yang mengakibatkan banjir dan longsor di Jepang.
Saat ini para petugas penyelamat di barat Jepang mulai menggali lumpur dan reruntuhan, Senin (9/7/2018).
Hujan mulai reda di seluruh penjuru kawasan yang di guyur pekan lalu, menunjukkan langit cerah dan matahari menyengat yang di perkirakan bakal meningkatkan suhu udara hingga melampaui 30 derajat celsius, memicu kekhawatiran akan serangan panas di daerah-daerah yang tak punya akses listrik atau air.
BACA JUGA:
Hardiknas 2026, Sekolah Sungai Cimanuk Garut Prihatin 19 Ribu Anak Putus Sekolah
“Kami tak bisa mandi, toilet tak bisa bekerja dan persediaan makanan kami mulai habis,” kata Yumeko Matsui, warga Mihara yang tak bisa mendapatkan air bersih sejak Sabtu, di kutip Reuters.
“Air botolan dan teh botolan semua hilang dari mini market dan toko-toko lain,” kata pekerja di sekolah keperawatan itu di salah satu tempat pasokan air darurat, seperti di lansir CNN.
Hampir 13 ribu orang tak mendapatkan listrik, kata perusahaan listrik pada Senin. Sementara ratusan ribu lainnya tak punya akses air bersih.
Jumlah korban kini setidaknya mencapai angka 109 jiwa. Setelah banjir memaksa jutaan orang mengungsi dari rumah, kata televisi NHK di kutip Reuters.
Jepang selalu memantau kondisi cuaca dan menerbitkan peringatan dini. Tapi populasi padat membuat setiap lahan yang tersedia di pegunungan di isi oleh bangunan.
Situasi ini membuat banyak wilayah rentan akan bencana.
(Agung)



