TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan lebih dari sekadar kemampuan akademik agar mampu beradaptasi dan bersaing ketika memasuki dunia kerja. Kampus juga perlu membaca perkembangan kebutuhan industri lalu menerjemahkannya melalui pengalaman belajar yang relevan.
Semangat tersebut mendorong Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya menggelar Management Career and Community Engagement (M-Care) bersama praktisi PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk.
Baca Juga: Hari Lahir ke-81 Kejaksaan RI, Kajari Kota Tasikmalaya Tekankan Integritas dan Kepercayaan Publik
Kegiatan bertajuk “Building Campus-Industry Synergy to Prepare Management Graduates for Career Readiness” itu melibatkan sejumlah dosen Jurusan Manajemen Unsil.
Rangkaian M-Care menghadirkan dua agenda utama, yakni Focus Group Discussion (FGD) dan Collaborative Capacity Building (CCB).
M-Care Perkuat Hubungan Kampus dan Dunia Industri
Jurusan Manajemen Unsil merancang M-Care sebagai wadah untuk mempertemukan kalangan akademisi dengan dunia industri.
Program tersebut tidak hanya memberikan industry exposure kepada mahasiswa. Para dosen juga dapat memperoleh industry insight secara langsung dari para pelaku industri.
Melalui forum tersebut, kampus dan industri memiliki ruang untuk berdialog secara dua arah. Kampus dapat memahami kompetensi yang industri butuhkan, sedangkan pelaku industri dapat melihat proses pendidikan sekaligus peluang kontribusinya dalam menyiapkan talenta yang lebih siap kerja.
Ketua Jurusan Manajemen Unsil Tasikmalaya, Lucky Radi Rinandiyana, memaparkan proses pembelajaran yang saat ini berjalan sekaligus arah pengembangan program studi ke depan.
Menurut Lucky, forum diskusi tersebut fokus membahas cara memperkecil kesenjangan antara kompetensi yang kampus siapkan dengan pengalaman dan kemampuan yang industri butuhkan ketika mahasiswa mulai memasuki dunia kerja.
Jurusan Manajemen Unsil juga memiliki modal penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Program studi tersebut telah mengantongi sertifikat akreditasi internasional dari AQAS.
Karena itu, jurusan terus mendorong penguatan kualitas dan relevansi pendidikan, termasuk dengan memperluas akses mahasiswa dan dosen terhadap dunia industri.
“Kami perlu terus memperkuat koneksi dengan industri untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan di dunia kerja. Bagi mahasiswa, akses tersebut penting untuk memperbanyak pengalaman sebelum lulus. Bagi dosen, interaksi dengan praktisi memberikan industry insight yang dapat menjadi bahan refleksi untuk mengembangkan proses pembelajaran,” ungkap Lucky Radi, Kamis (3/9/2026).
Mahasiswa Perlu Berani Keluar dari Zona Nyaman
Lucky juga menyoroti kesiapan mental mahasiswa ketika menghadapi persaingan dunia kerja.
Menurut dia, mahasiswa perlu membuka akses yang lebih luas terhadap peluang karier, termasuk berani merantau dan keluar dari zona nyaman yang selama ini mereka kenal.
Pandangan tersebut mendapat perhatian dari Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada.
Reza menjelaskan bahwa industri keuangan dan pasar modal tidak hanya membutuhkan lulusan yang memiliki latar belakang pendidikan linear dengan bidang keuangan.
Banyak talenta dari berbagai disiplin ilmu justru memiliki peluang untuk berkarier di sektor tersebut.
Kondisi itu menjadi masukan bagi para dosen untuk turut membangun kepercayaan diri mahasiswa. Mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk bersaing di luar jalur yang selama ini mereka anggap familiar.
Selain kompetensi teknis, mahasiswa juga perlu membangun kemampuan beradaptasi dengan dinamika dunia kerja.
Kompetensi Digital dan Adaptasi Jadi Perhatian
Dalam FGD yang sebelumnya disampaikan Human Resource and General Affair Manager PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Shekha Mahdalia, muncul sejumlah catatan mengenai kompetensi yang perlu mahasiswa miliki.
Kesiapan lulusan tidak cukup hanya dengan mengandalkan kemampuan akademik. Pengalaman belajar yang mahasiswa jalani selama kuliah juga memiliki peran penting dalam membentuk kesiapan menghadapi dunia profesional.
Reza Priyambada mengatakan keterampilan digital dan kemampuan beradaptasi perlu hadir dalam metode pembelajaran agar mahasiswa terbiasa menghadapi situasi yang dinamis.
“Keterampilan digital dan adaptasi cepat yang tercermin dalam metode pembelajaran, akan membiasakan mahasiswa menghadapi situasi dinamis, bukan sekadar materi statis. Kesiapan mental menjadi catatan penting karena tekanan dunia kerja kerap tak diimbangi bekal mengelolanya sejak masa kuliah,” ujar Reza Priyambada.
Menurut Reza, mahasiswa juga perlu mengembangkan sikap proaktif, kemampuan berkolaborasi, serta keberanian mengambil peluang.
Kampus dapat mengembangkan kemampuan tersebut melalui ruang belajar yang mendorong mahasiswa untuk mengambil inisiatif dan terlibat aktif, baik di dalam maupun di luar kelas.
Reza menegaskan, peningkatan career readiness mahasiswa tidak hanya bergantung pada materi yang dosen sampaikan.
Proses dan pengalaman belajar yang mahasiswa jalani selama menempuh pendidikan juga ikut menentukan kesiapan mereka memasuki dunia kerja.
Reliance Sekuritas Siap Dukung Pengembangan Mahasiswa Unsil
Hasil FGD juga membuka peluang kolaborasi lanjutan antara Jurusan Manajemen Unsil dan PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk.
Pihak Reliance Sekuritas menyatakan kesiapan untuk terus mendukung berbagai kegiatan pengembangan mahasiswa Jurusan Manajemen Unsil.
Masukan dari forum tersebut juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam proses review kurikulum serta memperluas keterlibatan praktisi dalam proses pembelajaran.
“Hasil FGD ini tidak berhenti sebagai catatan. PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk. menyatakan kesiapannya untuk terus mendukung kegiatan pengembangan mahasiswa Jurusan Manajemen Unsil, sekaligus menjadikan masukan dari forum ini sebagai bahan pertimbangan dalam proses review kurikulum serta pelibatan praktisi secara lebih rutin dalam proses pembelajaran,” paparnya.
Reza berharap forum seperti M-Care tidak berhenti pada pertukaran gagasan dan pengalaman. Kolaborasi tersebut perlu menghasilkan perubahan nyata dalam praktik pendidikan di lingkungan kampus.
CCB Bangun Kedekatan Dosen dan Praktisi
Selain FGD, M-Care juga menghadirkan Collaborative Capacity Building (CCB).
Sesi tersebut memberikan ruang yang lebih informal bagi dosen dan praktisi untuk berinteraksi serta membangun kedekatan personal.
Jika FGD berfokus pada pembahasan kebutuhan industri dan pengembangan pendidikan, CCB menghadirkan sisi berbeda melalui penguatan hubungan antarpihak yang terlibat dalam kolaborasi.
Reza menilai hubungan personal dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kerja sama jangka panjang antara perguruan tinggi dan industri.
“Forum ini menjadi investasi jangka panjang. Kolaborasi yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari kesesuaian program di atas kertas, ia membutuhkan chemistry yang terbangun di antara orang-orang yang menjalankannya, sehingga kegiatan-kegiatan berikutnya dapat berjalan lebih lancar karena sudah ada fondasi hubungan yang terbangun,” imbuhnya.
Rangkaian FGD dan Collaborative Capacity Building dalam M-Care menjadi langkah Jurusan Manajemen Unsil Tasikmalaya untuk memperkuat hubungan dengan dunia industri.
Kolaborasi bersama PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk tersebut juga membuka peluang bagi kampus untuk melakukan pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran berdasarkan kebutuhan dunia kerja.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Jurusan Manajemen Unsil dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi, pengalaman, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan mental untuk menghadapi persaingan karier.
(Seda)



