spot_imgspot_img
Selasa 14 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sumur Mengering, Warga Tasikmalaya Antre Air Bersih, Tagana Datang Membawa Harapan

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Terik matahari yang menyengat selama beberapa pekan terakhir perlahan tapi pasti mulai mengikis sumber kehidupan di sejumlah wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Kehadiran musim kemarau membawa dampak nyata yang langsung menusuk ke dapur-dapur warga.

Di tengah kondisi tanah yang mulai merekah dan sumur-sumur yang tidak lagi menyisakan air, rona kecemasan sempat membayangi wajah para ibu rumah tangga. Jangankan untuk menyiram ladang, sekadar untuk membasuh muka atau meneguk segelas air bersih pun kini menuntut perjuangan yang berat dari warga.

Baca Juga: KPAID Tasikmalaya-Pangdam III Siliwangi Siap Kampanye Antikekerasan Anak 24 Jam

Namun, di tengah himpitan kesulitan tersebut, respons cepat segera datang dari para relawan kemanusiaan. Menjawab jeritan sunyi warga yang kehabisan pasokan air, jajaran Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Tasikmalaya langsung bergerak taktis ke lapangan.

Harapan yang Mengalir di Kampung Sagobog

Pada awal pekan ini, Forum Koordinasi (FK) Tagana Kabupaten Tasikmalaya menerjunkan armada tangki kemanusiaan. Armada ini membawa ribuan liter air bersih langsung ke jantung daerah yang paling parah mengidap dampak kekeringan.

Kampung Sagobog RT 01/RW 01, Desa Cibalanarik, Kecamatan Tanjungjaya, menjadi salah satu titik kritis yang paling awal merasakan hantaman kemarau ekstrem tahun ini. Di kampung ini, sumur andalan warga telah berubah menjadi lubang kering yang berdebu.

“Kami menerima laporan bahwa warga di Kampung Sagobog mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak dan minum. Oleh karena itu, kami bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih langsung ke permukiman,” ujar Ketua FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya.

Kedatangan armada tangki air bersih siang itu langsung memantik binar bahagia dari mata warga. Sebanyak 56 Kepala Keluarga (KK) di Kampung Sagobog berduyun-duyun keluar rumah memanggul jeriken kosong, ember plastik, hingga bak penampungan seadanya.

Meski situasi mendesak, antrean warga berlangsung dengan sangat tertib, mencerminkan keteguhan sikap di tengah ujian alam.

Krisis Air Bersih Meluas hingga Kecamatan Bojonggambir

Penyaluran air bersih ini bukan sekadar rutinitas penanggulangan bencana, melainkan wujud komitmen kemanusiaan untuk memastikan hak dasar masyarakat tetap terpenuhi.

Berdasarkan informasi lapangan terbaru, krisis air bersih di Kabupaten Tasikmalaya kini kian meluas. Selain di Kecamatan Tanjungjaya, kekeringan juga melanda wilayah lain, seperti Dusun Cipari dan Dusun Cipatat di Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, serta Desa Cintajaya.

Di beberapa tempat, warga bahkan terpaksa mengantre di sumber air masjid terdekat demi memenuhi kebutuhan harian keluarga mereka.

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, FK Tagana terus memperkuat koordinasi lintas sektoral dengan Dinas Sosial, BPBD, PDAM, serta jajaran TNI dan Polri.

“Jadi saat kami mendapat laporan atau keluhan, kami langsung bergerak ke lokasi, sekaligus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk pemetaan wilayah kritis,” tambah Jembar.

Sebelumnya, FK Tagana bersama instansi terkait juga telah menggelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Kemarau 2026. Agenda ini bertujuan menyusun Tim Kesiapsiagaan yang solid hingga ke tingkat relawan desa.

Peta Daerah Rawan Kekeringan di Kabupaten Tasikmalaya

Merujuk pada data mitigasi FK Tagana, terdapat sejumlah kecamatan yang masuk dalam peta rawan krisis air bersih dan kekeringan tahunan. Daerah tersebut antara lain:

  • Kecamatan Cigalontang, Salawu, dan Singaparna
  • Kecamatan Sukaresik, Jamanis, dan Tanjungjaya
  • Kecamatan Ciawi, Pageurageung, Karangjaya, dan Cineam

Kondisi gersang ini sejalan dengan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS, mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Mengingat, ramalan cuaca memprediksi kemarau tahun ini akan berlangsung lebih kering dan panjang. Dampak kekeringan ini berpotensi mengancam hingga 351 desa yang tersebar di 39 kecamatan.

“Kami meminta masyarakat untuk menjaga dan melindungi area resapan air, menyiapkan pompa air untuk lahan pertanian, hingga membuat lubang biopori. Faktanya, sebagian wilayah seperti Bojonggambir, Cineam, Cipatujah, Singaparna, dan Mangunreja sudah mulai merasakan dampaknya,” tutur Roni.

Selain memicu krisis air bersih domestik, keringnya saluran irigasi juga membayangi ribuan hektare lahan pertanian dengan risiko gagal panen. Sebagai langkah antisipasi, BPBD menyarankan para petani untuk mulai beralih menanam komoditas palawija yang lebih minim konsumsi air.

Hari itu, bagi warga Kampung Sagobog, aliran air dari tangki Tagana tidak sekadar mengisi jeriken mereka yang kosong. Lebih dari itu, bantuan tersebut membawa secercah harapan—sebuah pengingat hangat bahwa di tengah musim yang paling gersang sekalipun, kepedulian sesama akan selalu menjadi mata air yang tidak pernah kering.

(Abdul Latif)

spot_img

Berita Terbaru