TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Kota Tasikmalaya menggelar Pagelaran Seni Longser yang sukses menyedot perhatian ratusan warga saat bermalam mingguan.
Halaman Balekota Tasikmalaya malam itu mendadak berubah menjadi panggung budaya megah. Penampilan sejumlah kesenian tradisional yang meriah sukses menyajikan tontonan sekaligus tuntunan gratis bagi masyarakat.
Ratusan penonton dari berbagai kalangan tampak memadati area halaman Balekota Tasikmalaya. Senyum, tawa lepas, tepuk tangan, hingga sorak-sorai riuh mengiringi setiap adegan jenaka yang lahir dari para seniman Longser berpengalaman.
Pagelaran Longser tersebut mengusung konsep kolaborasi antara pegiat budaya, seniman lokal, dan anggota Lesbumi. Menggunakan balutan kostum khas Sunda serta iringan musik kendang, suling, dan gong, para pemain membawakan cerita jenaka yang sarat akan kritik sosial serta edukasi bagi khalayak ramai.
Dialog spontan yang menjadi ciri khas teater rakyat ini berulang kali mengocok perut penonton. Namun di balik balutan humor segar tersebut, para seniman menyelipkan pesan mendalam mengenai akhlak, gotong royong, serta pentingnya menjaga persatuan dan kebersamaan.
Pentas Longser bertajuk Tamu Agung tersebut menarik perhatian Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara, serta Kepala Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Deddy Mulyana. Mereka berbaur langsung dengan ratusan warga dan larut dalam atmosfer semarak acara.
Menghidupkan Kembali Kesenian Longser di Ruang Publik
Dicky Candra menyambut baik inisiatif Lesbumi yang berani menghidupkan kembali kesenian longser di ruang publik, tepat di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern.
Orang nomor dua di Kota Tasikmalaya itu melontarkan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada para seniman, budayawan, khususnya keluarga besar Lesbumi yang konsisten merawat kesenian kocak khas daerah ini.
“Saya melihat pentas seni ini sangat menggugah semangat bersama untuk mencintai dan menjaga budaya daerah. Ini penting agar generasi muda tahu bahwa kita punya seni pertunjukan yang unik dan menghibur,” ungkap Dicky Candra Negara, Minggu (12/7/2026).
Ia menegaskan, seni dan budaya lokal tidak boleh mandek pada batas tawa semata. Menurutnya, sebuah karya harus tetap hidup dan mampu menyampaikan pesan sosial serta nilai moral yang kokoh kepada khalayak.
“Dalam seni itu harus ada value. Tidak hanya membuat orang tertawa atau gembira saja, tapi harus ada pesan moral yang tersampaikan di dalam pentasnya. Pesan tentang akhlak, tentang persatuan, tentang kehidupan dan masa depan,” paparnya.
Tontonan yang Menghibur Namun Tetap Edukatif
Dicky Candra menuturkan, Lesbumi memikul peran besar sebagai rumah dan wadah bagi para seniman muslim. Oleh karena itu, lembaga ini harus mampu menghadirkan tontonan yang sehat, menghibur, namun tetap mendidik dan menginspirasi masyarakat.
“Kalau seni dan budaya daerah terus hidup, kotanya juga pasti hidup. Ekonomi kreatif jalan, pariwisata ramai, dan akhlak serta karakter anak muda kita berjalan positif,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Lesbumi PCNU Kota Tasikmalaya, Dwi Februwana, membeberkan alasan pihaknya memilih kesenian longser. Menurut Dwi, kesenian tradisional ini mulai jarang naik panggung. Padahal mengantongi karakteristik dan identitas yang sangat kuat di tengah masyarakat Sunda, khususnya di Tasikmalaya.
“Lewat pagelaran ini kami ingin mengenalkan lagi longser ke kalangan masyarakat khususnya kalangan anak muda. Caranya dikemas kekinian, bahasanya dekat dengan keseharian, tapi ruhnya tetap longser Sunda,” ungkap Dwi.
Pentas teater rakyat bertema Tamu Agung ini sebenarnya menyerap inspirasi dari naskah drama klasik Revizor karya sastrawan Rusia ternama, Nikolai Gogol. Lewat adaptasi budaya tersebut, Lesbumi berkomitmen menjadikan seni dan budaya lokal sebagai media dakwah yang menyejukkan. Sekaligus menyenangkan bagi semua kalangan.
“Kami ingin masyarakat, terutama anak muda Tasikmalaya memberikan edukasi dan menyadari. Bahwa menjaga seni budaya daerah sendiri itu penting karena sebagai ciri khas dan warisan nenek moyang. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi yang menjaganya,” pungkas Dwi.
(Seda)



