DEPOK,FOKUSJabar.id: Masyarakat selama ini mengenal cabai sebagai salah satu bahan utama dalam berbagai masakan Nusantara. Meski memiliki ukuran kecil, komoditas pedas ini ternyata memikul peran yang jauh lebih besar daripada sekadar pelengkap sambal di meja makan.
Di balik tingginya kebutuhan konsumsi harian, masyarakat sebenarnya bisa meraup berbagai manfaat besar apabila mulai membudidayakan cabai secara mandiri. Selain membantu mengamankan kebutuhan pangan keluarga, cabai juga mengantongi nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Ratujaya, Dip Pramudya, menyuarakan pesan penting tersebut saat memberikan penyuluhan dalam kegiatan Gerakan Tanam Cabai (Gertam Cabe) di RW 01 Kampung Rawageni, Kelurahan Ratujaya, Depok.
Dip menjelaskan, cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memegang pengaruh sangat kuat terhadap laju inflasi. Tingginya angka konsumsi masyarakat membuat fluktuasi harga cabai sering kali mengguncang kondisi ekonomi secara lebih luas.
“Kenapa kita harus semangat menanam cabai? Karena cabai itu satu-satunya tanaman sayuran yang menyumbang inflasi. Jadi ketika harganya naik, harga-harga yang lain ikut terdampak. Karena itu, kalau masyarakat menanam cabai sendiri, paling tidak tidak perlu lagi membeli untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya, Minggu (12/7/2026).
Menurut Dip, warga tidak hanya memetik manfaat menanam cabai saat harga di pasaran sedang melambung tinggi. Ketika panen berlangsung sukses dan menghasilkan buah yang melimpah, warga bisa memanfaatkan cabai sebagai sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Menghemat Peneluaran Rumah Tangga
Bahkan jika warga memilih tidak menjualnya, mereka tetap mengantongi keuntungan nyata karena kebun sendiri sudah mampu mencukupi kebutuhan dapur harian. Kondisi ini secara otomatis membantu menghemat pengeluaran rumah tangga.
Dip juga menilai tanaman cabai sangat cocok menjadi langkah awal bagi masyarakat yang baru ingin belajar bercocok tanam. Usai menguasai teknik budidaya cabai, warga biasanya akan lebih mudah mengembangkan budidaya tanaman lain yang masih satu keluarga, seperti tomat dan terung.
Bagi Dip, aktivitas bertani juga menyimpan nilai pendidikan karakter yang sangat penting untuk anak-anak sejak usia dini. Pengetahuan mengenai dunia botani dan cara bercocok tanam akan menjadi bekal hidup yang selalu berguna di masa depan.
“Kalau kita bisa menanam tanaman, berarti kita bisa mengajarkan anak-anak seni bertahan hidup. Mereka perlu mengenal tanaman sejak kecil, mengetahui mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak. Ilmu seperti ini tidak akan pernah sia-sia karena suatu saat bisa menyelamatkan dirinya,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, Dip mengajak warga Depok untuk tetap produktif memanfaatkan ruang yang tersedia. Warga bisa menerapkan berbagai metode kreatif, mulai dari penanaman menggunakan polybag, optimalisasi pekarangan rumah, hingga pengaplikasian sistem hidroponik.
Ia juga mengapresiasi rencana penerapan sistem irigasi tetes otomatis di RW 01 Rawageni. Inovasi ini menjadi bukti nyata praktik pertanian modern karena menghadirkan sentuhan teknologi yang mempermudah proses perawatan tanaman.
“Pertanian modern tidak harus menggunakan alat yang rumit atau robot. Begitu ada sentuhan teknologi yang membantu pekerjaan, seperti irigasi otomatis, itu sudah termasuk pertanian modern,” jelas Dip.
Dip menggantungkan harapan agar Gerakan Tanam Cabai ini tidak sekadar mengejar hasil panen fisik, melainkan mampu berevolusi menjadi ruang edukasi hijau bagi masyarakat. Keberadaan kebun cabai di tengah pemukiman harus menjadi sarana belajar interaktif bagi anak-anak untuk mengenal pertanian sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap ketahanan pangan.
Guna menyukseskan gerakan tersebut, BPP Ratujaya menyatakan kesiapan penuh untuk mendampingi warga dalam setiap tahapan budidaya. Petugas siap mengawal mulai dari proses penyemaian bibit, penanaman, perawatan harian, pengendalian hama penyakit, hingga masa panen tiba.
(Jingga Sonjaya)



