GARUT, FOKUSJabar.id: Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra) merupakan rumah bersama perjuangan pemekaran Kabupaten Garut Utara.
Organisasi tersebut terbuka bagi seluruh putra-putri Garut Utara yang memiliki kepedulian dan niat baik untuk berkontribusi, demikian di sampaikan Ketua Umum PM Gatra, Holil Aksan Umarzen.
BACA JUGA:
Pemkab Garut-Provinsi Kepri Jajaki Kerja Sama Tingkatkan IPM
Namun perlu di pahami bahwa PM Gatra berbeda dengan lembaga resmi pemerintahan yang memiliki anggaran tetap ataupun partai politik yang di dukung oleh kekuatan finansial dan struktur kader yang mapan.
Menurutnya, PM Gatra adalah gerakan masyarakat yang tumbuh dari semangat gotong royong, partisipasi dan pengabdian sukarela.
Karena itu, struktur organisasi dan jumlah jabatan yang tersedia sangat terbatas. Sehingga tidak mungkin dapat mengakomodasi seluruh tokoh dan pejuang dalam kepengurusan formal.
Pengabdian tidak di ukur dari jabatan. Tetapi dari komitmen, kontribusi dan kesediaan untuk terus mengawal perjuangan bersama.
Bagi siapa pun yang ingin bergabung, pihaknya membuka pintu selebar-lebarnya. Namun, perjuangan ini memerlukan kesiapan mental, keluasan berpikir, ketulusan hati, kesediaan meluangkan waktu dan tenaga. Bahkan pengorbanan dalam berbagai bentuk sesuai kemampuan masing-masing.
“Perjuangan tidak cukup hanya dengan gagasan dan wacana. Tetapi membutuhkan kerja nyata, konsistensi dan totalitas. Sebab, agenda besar pemekaran Kabupaten Garut Utara tidak boleh berhenti pada retorika dan pembicaraan semata,” ungkap Holil.
BACA JUGA:
Wujudkan Sila ke-5, Ormas GAS Bantu Kaum Difabel Garut
Paguyuban Masyarakat Garut Utara menghargai setiap sumbangsih. Baik melalui pemikiran, jejaring, dukungan moral maupun kerja nyata.
“Pintu kebersamaan selalu terbuka, karena perjuangan Garut Utara adalah milik seluruh masyarakat, bukan milik satu orang atau satu kelompok,” katanya.
Sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang memulai. Tetapi juga siapa yang tetap setia mengawal dan memberikan kontribusi nyata hingga cita-cita bersama itu terwujud.
(Bambang Fouristian)



