spot_imgspot_img
Sabtu 7 Maret 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Konsolidasi MBG Bandung Raya, Sisa Makanan Diminta Dikelola Jadi Pupuk dan Maggot

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Badan Gizi Nasional (BGN) menggelar konsolidasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk wilayah Bandung Raya yang mencakup Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang.

Pertemuan tersebut membahas berbagai aspek pelaksanaan program. Mulai dari peningkatan kualitas layanan bagi penerima manfaat hingga pengelolaan limbah makanan agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan.

Baca Juga: Isu Kenaikan Iuran JKN Beredar, BPJS Kesehatan Beri Klarifikasi Resmi

Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, menjelaskan konsolidasi ini bertujuan menyamakan pemahaman seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG.

“Melalui konsolidasi ini kami ingin mengingatkan kembali tujuan utama program MBG. Yaitu meningkatkan asupan gizi bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta peserta didik,” ujar Sony, Sabtu (7/3/2026).

Ia menegaskan, keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak boleh menimbulkan dampak lingkungan akibat sisa makanan yang tidak terkelola dengan baik.

“Jangan sampai keberadaan SPPG di Kota Bandung justru menimbulkan penumpukan sampah dan bau akibat makanan yang tidak habis konsumsi,” katanya.

Sony menambahkan, sisa makanan sebenarnya dapat dimanfaatkan melalui berbagai metode pengolahan, seperti budidaya maggot atau diolah menjadi pupuk organik cair.

Potensi Ekonomi dari Limbah Dapur MBG

Selain itu, limbah minyak jelantah dari dapur MBG juga memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan baik.

“Satu SPPG saja bisa menghasilkan sekitar 500 liter minyak jelantah setiap bulan. Jika membuangnya ke saluran air tentu akan menimbulkan masalah. Padahal minyak tersebut dapat dikumpulkan dan dijual sehingga memiliki nilai ekonomi,” jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan Pemerintah Kota Bandung tengah mengembangkan konsep ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah mulai dari tingkat kewilayahan.

Menurutnya, dapat mengolah sampah organik menjadi pupuk cair maupun kompos yang kemudian memanfaatkannya untuk kegiatan urban farming.

“Hasilnya bisa sebagai media tanam untuk urban farming. Kemudian memanfaatkan hasil panennya sebagai dapur sehat atau program penanganan stunting,” kata Farhan.

Ia menilai program MBG justru dapat menjadi peluang untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah organik di masyarakat.

“Kami tidak melihatnya sebagai beban. Tetatapi sebagai peluang untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk cair, pupuk organik, hingga kompos yang bermanfaat,” ujarnya.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru