BANDUNG,FOKUSJabar.id: Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengajak pengusaha Hartono Soekwanto dan presenter Irfan Hakim meninjau langsung praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat di sejumlah wilayah Kota Bandung, Minggu (22/2/2026).
Kunjungan tersebut bertujuan memperkuat gerakan pilah sampah dari rumah sekaligus mendorong replikasi pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat RW. Farhan menilai, keberhasilan pengelolaan sampah harus bermulai dari hulu, yakni rumah tangga dan lingkungan warga.
Baca Juga: Macet Jadi PR Utama, Pemkot Bandung Dorong Infrastruktur dan Transportasi Terpadu
Tiga lokasi menjadi tujuan peninjauan, yaitu Jasmine Integrated Farming, Buruan SAE Cibangkong, serta Rumah Maggot Kurdi Timur. Ketiga titik tersebut menunjukkan bagaimana mengolah sampah rumah tangga menjadi maggot, pupuk kompos, sekaligus mendukung urban farming warga.
Di Jasmine Integrated Farming, warga telah menjalankan pengelolaan sampah terpadu sejak 2019. Setiap hari, komunitas ini mengolah sekitar 150 kilogram sampah organik atau hampir lima ton per bulan. Langkah tersebut membuat sampah tidak lagi berakhir di tempat pembuangan sementara.
Ketua KSM Jasmine Integrated Farming, Dodi Iriana, menekankan bahwa konsistensi warga menjadi kunci keberhasilan program tersebut.
“Secara materi mungkin tidak besar, tetapi keberkahannya luar biasa. Sejak 2019 kami menerima berbagai penghargaan dari tingkat kecamatan hingga nasional. Bahkan tamu dari luar kota dan luar negeri datang setelah melihat aktivitas kami di media sosial,” ujar Dodi.
Ia menambahkan, pengelolaan sampah tersebut mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp2 juta per bulan kegunaannya untuk operasional dan penguatan ekonomi komunitas.
Pengolahan Sampah Seperti di Jepang

Pada kesempatan yang sama, Hartono Soekwanto yang akrab disapa Bos Koi mengaku terkesan dengan kesadaran warga dalam mengelola sampah secara mandiri. Menurutnya, pola tersebut mencerminkan disiplin pengelolaan sampah seperti yang diterapkan di Jepang.
“Sampah yang dihasilkan, dikelola sendiri, lalu diubah menjadi maggot dan kompos. Ini luar biasa. Sebagai warga, tentu kami senang melihat perkembangan seperti ini,” katanya.
Ia pun mengajak masyarakat mulai memilah sampah dari rumah sebagai langkah sederhana untuk mendukung kebersihan Kota Bandung.
“Mulai dari hal kecil, seperti memisahkan kulit buah. Kita bantu program pemerintah. Harapan kita semua sama, Bandung jadi kota yang lebih bersih,” ucapnya.
Sementara itu, Muhammad Farhan menegaskan bahwa Kota Bandung memiliki 1.592 RW yang harus terlibat aktif dalam pengelolaan sampah. Ia mendorong agar praktik baik dari sejumlah RW segera direplikasi ke wilayah lain.
“Kita harus replikasi, replikasi, dan replikasi. Komitmen kami jelas, sampah harus selesai dari hulunya, dari rumah dan lingkungan sendiri,” tegas Farhan.
Farhan optimistis, meningkatnya partisipasi warga akan membantu Kota Bandung menangani persoalan sampah secara bertahap dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Irfan Hakim menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam memperkuat gerakan peduli lingkungan, terutama di kota kreatif seperti Bandung. Menurutnya, keterlibatan anak muda akan mempercepat perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah.
Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, figur publik, dan masyarakat menjadi kunci membangun sistem pengelolaan sampah berkelanjutan yang bermulaii dari rumah dan lingkungan warga.
(Yusuf Mugni)


