BANDUNG,FOKUSJabar.id: Program Sirkular Bandung Utama menunjukkan dampak nyata dalam satu tahun pelaksanaannya dengan membangun sistem terpadu pengelolaan sampah, ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat di tingkat kelurahan.
Melalui integrasi program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), inovasi urban farming Buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis), serta Dashat (Dapur Sehat Atasi Stunting), warga kini dapat mengolah sampah menjadi kompos, menanam bahan pangan, hingga memanfaatkannya untuk kebutuhan dapur sehat keluarga.
Konsep tersebut membentuk siklus berkelanjutan. Sampah organik di olah menjadi kompos untuk menanam bahan pangan, hasil panen untuk dapur sehat, dan sisa dapur kembali untuk sistem pengelolaan sampah.
BACA JUGA: Muhammad Farhan Setahun Memimpin Kota Bandung
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan tantangan utama saat ini adalah memastikan keberadaan Dashat merata di seluruh wilayah.
“Kalau Buruan SAE dan pengolahan sampah rata-rata sudah ada. Yang kita pastikan sekarang adalah Dapur Sehat Atasi Stunting di tingkat kelurahan,” kata Farhan, Sabtu (21/2/2026).
Perhatian khusus juga untuk wilayah dengan keterbatasan lahan. Terutama dalam pengelolaan sampah, melalui skema khusus agar seluruh kelurahan tetap dapat terlibat dalam sistem sirkular.
Manfaat program tersebut telah dirasakan langsung oleh Warga Kelurahan Mekarjaya, Opi S. Inayah mengatakan, Buruan SAE kini menjadi sumber pangan keluarga.
“Kami bisa menanam, memanen, dan hasilnya di manfaatkan untuk dapur sehat. Ini gerakan yang terintegrasi dan sangat bagus,” kata Opi.
BACA JUGA: Anggaran Jalan Rp300 M, Wali Kota Bandung Cegah Korupsi
Sementara itu, waraga lainnya Ujang Mamat mengatakan, bahwa program Kang Pisman membuat lingkungan menjadi lebih bersih dan tertata.
“Sampah organik dan non-organik sudah dikelola. Lingkungan jadi lebih nyaman,”kata Ujang.
(Yusuf Mugni)


