spot_imgspot_img
Sabtu 21 Februari 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Tolak Tawaran Profesor di Jerman, Brigjen  Bangkit Widodo Pilih Mengabdi untuk Negara

JAKARTA, FOKUSJabar.id: Keberhasilan akademis dan dedikasi pada negara seringkali menuntut pengorbanan yang tidak main-main. Hal ini di buktikan oleh Direktur Pendidikan Sesko TNI Brigjen Bangkit Rahmat Tri Widodo.

Dia merupakan seorang perwira TNI yang baru menuntaskan pendidikan Doktoral (S3) bidang Political Science di Jerman dengan predikat Magna Cumlaude.

BACA JUGA:

Inilah Karya Dari Panglima TNI Bagi Masyarakat Cijulang Pangandaran

Di Jerman, aturan Kementerian Pendidikan menetapkan bahwa predikat Summa Cumlaude hanya di peruntukkan bagi rumpun ilmu Sains, Technology, Engineering dan Mathematics (STEM).

Sehingga bagi jurusan ilmu sosial seperti Ilmu Politik, Magna Cumlaude adalah nilai absolut tertinggi yang bisa di capai.

Menariknya, sejak tahun 2017, belum ada satu pun mahasiswa di fakultas tersebut yang mampu meraih nilai absolut tersebut. Hingga akhirnya rekor tersebut di pecahkan oleh seorang mahasiswa asing (Ausländer) dari Indonesia.

Namun, di balik pencapaian gemilang pada akhir Januari 2026, tersimpan kisah panjang tentang keteguhan hati memilih tugas negara, ujian berat keluarga hingga perjuangan bertahan hidup di negeri orang.

Mendahulukan Panggilan Negara

Pencapaian akademis ini sejatinya bisa di raih lebih cepat jika Bangkit Tri Widodo tidak memilih mendahulukan tugas kedinasan.

Pada 1 Januari 2024, Dia memutuskan kembali ke Tanah Air, mendahului jadwal sidang Defense Disertasi yang seharusnya di gelar pada pertengahan April 2024.

Kepulangan tersebut bukan tanpa alasan. Dia menerima amanat besar untuk merancang dan mengeksekusi sistem werving (penerimaan) Taruna Akademi TNI tahun 2024.

BACA JUGA:

Penanggulangan Terorisme, Pelibatan TNI Harus Diposisikan Sebagai Support To Civil Authority

Tugas tersebut menuntut transparansi, akuntabilitas dan harus bersih dari praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

“Alhamdulillah amanat ini dapat kami tunaikan secara amanah dan memenuhi norma transparansi, akuntabel dan bebas KKN. Hal yang menjadi kepuasan kami pribadi sebagai prajurit yang menunaikan tugas dengan sebaik mungkin,” kata Bangkit.

Dedikasi ini memaksanya menunda sidang doktoral berkali-kali. Dari April mundur ke Juli untuk mengawal werving PSDP Penerbang TNI. Kemudian mundur lagi ke Desember 2024 demi mengawal penerimaan Pa PK TNI.

Memasuki tahun 2025, Dia berpindah satuan ke Sesko TNI dan harus menata proses pendidikan di sana. Karenanya, jadwal sidangnya semakin tertunda.

Barulah pada awal tahun 2026, setelah mendapat izin dari Panglima TNI, Dia berhasil menuntaskan proses akademisnya.

Bertahan di Tengah Badai Ujian dan Pandemi

Meraih gelar doktor di Jerman bukanlah perkara mudah. Tingkat kelulusan program ini hanya sekitar 30 persen. Sejak awal, Bangkit mengaku hanya menargetkan “yang penting lulus.” Terlebih, ia harus menghadapi badai ujian keluarga yang sangat berat.

Sang istri tercinta sempat mengalami koma selama empat bulan dan harus menjalani perawatan intensif di Jerman.

Kondisi tersebut memaksanya mengambil cuti akademik (terminal) selama satu tahun (dua semester).

BACA JUGA:

Integritas dan Profesionalitas TNI untuk Menjaga Kedaulatan Negara

Praktis dari 3,5 tahun izin tugas belajar yang di berikan, Dia harus memeras otak dan tenaga untuk menyelesaikan riset hanya dalam waktu 2,5 tahun.

Tantangan finansial juga membayangi. Di masa lockdown akibat pandemi Covid-19, ia harus membagi fokus antara mengurus keluarga, mengerjakan disertasi dan bekerja untuk menyambung hidup.

Saat itu, gaji dan remunerasi non-jabatannya berpangkat Kolonel berada di kisaran Rp11 juta. Sementara kebutuhan hidup minimum di Jerman mencapai Rp40 juta per bulan.

“Namun Alhamdulillah, dengan niat sederhana, sluman, slumun, slamet yang penting selesai dan lulus serta berkat doa semua pihak, penghargaan yang tidak pernah kami bayangkan ini justru dapat kami raih,” ungkapnya.

Mendobrak Teori Demokrasi Barat dan Menolak Tawaran Profesor

Momen sidang doktoral menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Selama hampir empat jam, Bangkit “di kuliti habis” oleh para profesor penguji.

Riset disertasinya mengusung topik inovatif tentang “elites’ political cohesion,” sebuah pemahaman baru yang menjelaskan anomali dalam proses demokratisasi dan menantang relevansi teori-teori demokrasi Barat yang selama ini menempatkan elite sebatas latar belakang, bukan kunci esensial dalam kontrol sipil.

BACA JUGA:

Pelibatan TNI Dalam Penanggulangan Terorisme Bukan Cerita Baru

Hasilnya luar biasa. Baik disertasi tertulis maupun hasil sidang mendapatkan nilai absolut sempurna (Magna Cumlaude).

Para profesor penguji bahkan sempat bergurau karena rekor fakultas yang bertahan bertahun-tahun justru di pecahkan oleh seorang mahasiswa asing.

Pencapaian luar biasa ini membuat Bangkit mendapat tawaran bergengsi untuk melanjutkan pendidikan professorships (gelar profesor) selama empat tahun di Jerman. Namun, dengan penuh hormat tawaran emas itu ia tolak.

“Kami memilih untuk mengutamakan pengabdian kami di TNI,” pungkasnya.

Kisah Bangkit Tri Widodo menjadi bukti nyata bahwa prajurit TNI tidak hanya tangguh di medan tugas. Namun juga mampu mengharumkan nama bangsa di mimbar akademik internasional, tanpa pernah melupakan sumpah setianya pada Ibu Pertiwi.

(Anthika Asmara)

spot_img

Berita Terbaru