TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Tiga modal yang Allah SWT berikan kepada setiap manusia adalah sama. Yakni berupa potensi pendengaran, penglihatan dan hati nurani. Modal yang sama teresebut akan menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan apabila modal itu di kelola dengan sikap syukur.
Hal tersebut di sampaikan Deputy CEO Bidang Pendidikan Idrisiyyah Tasikmalaya, Adang Nurdin M.S., M.Pd, melalui tulisan yang di terima FOKUSJabar.id.
Bentuk dari mengelola modal dan karunia besar dari Allah SWT ialah dengan bersyukur. Pendengarannya di gunakan untuk mendengarkan berbagai hal yang bermanfaat dan menambah wawasan, kajian, pembinaan, seminar.
Baca Juga: Menjadi Seorang Guru, Pendidik dan Motivator
Bahkan lebih dari itu Guru dan Pendidik bisa belajar dengan mau mendengarkan peserta didik. Mendengarkan rekan sepforesi, orangtua dengan berbagai problematika di dalamnya sebagai sebuah pembelajaran untuk meningkatkan kualitas diri.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005. Tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1), ada 4 kompetensi yang wajib di miliki seorang guru. Yaitu kompetensi pedagodik, kepribadian, sosial dan profesional.
Kompetensi pedagogik guru adalah kemampuan atau keterampilan guru yang bisa mengelola suatu proses pembelajaran. Atau interaksi belajar dan mengajar dengan peserta didik.
Kompetensi pedagogik lahir dari kompetensi pribadi seorang guru yang mampu mengambil ibrah (pelajaran) dari setiap kendala yang di hadapi. Ketika proses belajar mengajar, menghadapi permasalahan anak-anak yang sulit belajar, malas, hiperaktif. Maka dapat membuat problem di olah menjadi sebuah solusi.
Itulah buah dari mendayagunakan modal yang Allah SWT berikan berupa pendengaran, penglihatan dan hati nurani. Lahir sebuah kreativitas guru dalam mendidik dan selalu menemukan solusi dari setiap permasalahan pembelajaran di kelas.
Wujud dari Kompetensi Sosial
Menjadi guru yang memiliki ‘Sense of Care and Sense of Belonging’ adalah wujud dari kompetensi sosial. Peduli terhadap perkembangan siswa, peduli terhadap perkembangan lembaga, sekolah bukan di jadikan semata-mata tempat bekerja saja.
Lebih dari itu sekolah di jadikan sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT. Dalam rangka memperoleh tiket anugrah Allah SWT sebagai orang yang berilmu dan bermanfaat ilmunya.
Dengan mendayagunakan modal yang Allah SWT berikan dengan baik dan maksimal. Maka akan lahir guru profesional yang memiliki jiwa pembelajar dan jiwa pengabdi.
Sebagaimana dokter bertugas mengobati penyakit pasien, guru bertugas mengatasi berbagai keluhan belajar yang di hadapi siswa. Keduanya di tuntut bersikap profesional dalam melaksanakan tugas.
Guru yang dekat dengan siswa dan berpengalaman mengajar bertahun-tahun akan mengetahui berbagai ‘penyakit’ yang biasa di derita siswa. Dengan demikian, guru tersebut tak akan kesulitan menemukan solusi yang tepat.
Penyakit Siswa Rendahnya Motivasi
Sehingga sangat tidak wajar jika guru yang sudah mengajar bertahun-tahun kemudian menemukan permasalahan belajar yang sama. Tapi tidak memiliki ‘obat’ dengan resep yang pas sebagai solusinya. Seharusnya pengalaman guru mampu di jadikan berbagai formulasi resep untuk setiap penyakit belajar siswa.
Salah satu ‘penyakit’ yang biasa di hadapi siswa adalah rendahnya motivasi. Itu terlihat dari aktivitas siswa dalam KBM dan saat mengerjakan tugas yang di berikan guru. Padahal, motivasi merupakan pilar keberhasilan dalam belajar.
Baca Juga: Suasananya Indah, Situ Gede Tasikmalaya Cocok Jadi Tempat Ngabuburit
Tanpa motivasi yang kuat, KBM tak akan berhasil. Ketika guru melihat siswa kehilangan motivasi belajar, perlu di telusuri penyebabnya, lalu di carikan solusi. Guru jangan menunggu siswa datang untuk sharing.
Guru harus peka terhadap kondisi siswanya. Tak jarang pula, minat baca siswa rendah. Siswa lebih betah berjam-jam di depan televisi daripada membaca. Untuk membangkitkan minat baca siswa, guru bisa menunjukkan betapa banyak manfaat membaca.
Misalnya, membangkitkan kreativitas, memberikan hiburan yang sehat, bahkan (bagi seorang muslim) perintah agama. Selain itu hal ini juga di sebabkan oleh rendahnya minat baca guru-guru di sekolah. Yang tidak menjadi uswah bagi budaya literasi sekolah.
(Nanang Yudi)



