spot_img
Rabu 18 Februari 2026
spot_img

Tradisi Ngabuburit dan War Takjil yang Selalu Dinanti

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Bulan Ramadan di Indonesia selalu membawa nuansa khas yang tak hanya soal ibadah puasa. Salah satu fenomena yang selalu di nantikan adalah momen ngabuburit.

Ngabuburit adalah aktivitas menunggu adzan maghrib yang kerap di penuhi kegiatan santai sekaligus menyenangkan.

BACA JUGA:

Memahami Perbedaan Shalat Tarawih 11 dan 23 Rakaat

Ngabuburit kini lebih dari sekadar menunggu waktu berbuka. Aktivitas ini telah menjadi budaya sosial yang mempererat ikatan keluarga dan komunitas.

Orang-orang bisa mengisinya dengan berjalan-jalan di sekitar lingkungan, membaca Al-Qur’an, mengikuti pengajian atau sekadar berkumpul bersama teman.

Selain kegiatan santai, ngabuburit juga identik dengan berburu takjil. Di mana masyarakat beramai-ramai menuju pasar Ramadan untuk mencari hidangan pembuka puasa.

Tradisi ini lahir dari semangat kebersamaan yang kental dan menjadi salah satu daya tarik unik Ramadan di tanah air.

Pasar Ramadan sendiri selalu ramai menjelang sore. Berbagai pedagang menawarkan kuliner khas. Mulai dari kolak, es campur, cendol hingga kue tradisional yang hanya mudah di temukan selama bulan puasa.

Keberagaman makanan ini membuat suasana pasar semakin hidup dan semarak.

Fenomena “war takjil” muncul ketika pembeli saling berebut makanan favorit di tengah keramaian pasar.

Suasana ini penuh semangat dan antusiasme, membuat momen menjelang berbuka terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Tidak sekadar tempat jual-beli, pasar Ramadan menjadi ruang sosial di mana warga dari berbagai usia dan latar belakang saling bertemu.

Percakapan hangat dan interaksi santai menambah pengalaman ngabuburit yang kental dengan nilai kebersamaan.

BACA JUGA:

10 Persiapan Penting Menyambut Hari Pertama Puasa Ramadan

Selain pasar tradisional, beberapa kota juga menggelar festival atau bazaar Ramadan berskala lebih besar.

Acara ini biasanya menghadirkan panggung seni, stan UMKM dan program komunitas. Sehingga suasana Ramadan terasa lebih meriah dan modern.

War takjil bukan hanya soal kecepatan atau strategi memburu makanan. Aktivitas ini mencerminkan semangat solidaritas, berbagi dan kebersamaan. Termasuk melalui pembagian takjil gratis yang kerap di lakukan di berbagai titik kota.

Tradisi ini menjadi pengingat bahwa Ramadan tidak hanya soal ibadah pribadi. Tapi juga tentang mempererat hubungan sosial dan menjaga semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Dengan kombinasi antara ibadah, kuliner dan interaksi sosial, bulan puasa di Indonesia menghadirkan pengalaman unik yang kaya makna.

War takjil menjadi simbol hidupnya tradisi dan budaya bersama di setiap sore Ramadan.

Setiap tahunnya, masyarakat menantikan momen ini dengan penuh antusiasme. Sehingga membuat ngabuburit dan pasar Ramadan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan bulan suci di Indonesia.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru