spot_img
Minggu 15 Februari 2026
spot_img

Fenomena Thrifting dan Resiko Belanja Impulsif

GAYA HIDUP, FOKUSJabar.id: Budaya belanja barang bekas atau thrifting semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan anak muda.

Aktivitas ini kini tidak lagi dipandang sekadar alternatif saat kondisi ekonomi terbatas, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern.

Tren tersebut berkembang seiring perubahan cara masyarakat memandang konsumsi. Banyak orang mulai mencari pilihan belanja yang lebih terjangkau, unik, sekaligus di anggap lebih ramah lingkungan di banding membeli produk baru.

Baca Juga: Ramadan sebagai Ruang Interaksi Sosial Lintas Agama di Masyarakat

Fenomena thrifting juga terlihat dari pertumbuhan pasar pakaian second-hand yang terus meningkat secara global. Dalam beberapa tahun ke depan, sektor ini di perkirakan semakin besar, di dorong oleh toko fisik maupun platform digital.

Generasi muda seperti Gen Z dan milenial menjadi kelompok yang paling aktif dalam tren ini. Mereka melihat barang preloved bukan sebagai pilihan terakhir, melainkan sebagai cara menemukan produk yang berbeda dari barang produksi massal.

Selain harga yang relatif lebih murah, thrifting menawarkan pengalaman belanja yang lebih personal. Banyak konsumen menikmati proses berburu barang unik yang tidak mudah di temukan di toko ritel biasa.

Di sejumlah negara, pasar pakaian bekas tumbuh lebih cepat di banding industri pakaian baru. Hal ini menunjukkan bahwa belanja barang second-hand sudah menjadi kebiasaan yang semakin umum, bukan sekadar tren sementara.

Kesadaran terhadap isu lingkungan juga ikut mendorong meningkatnya minat pada thrifting. Membeli barang bekas di nilai dapat memperpanjang usia pakai produk sekaligus mengurangi limbah tekstil yang terus bertambah.

Thrifting Jadi Populer

Namun, perkembangan budaya ini juga membawa sisi lain yang perlu di perhatikan. Ketika thrifting menjadi populer, sebagian orang justru terdorong membeli lebih banyak barang hanya karena murah atau sedang tren.

Kondisi tersebut membuat tujuan awal thrifting sebagai pilihan hemat bisa bergeser menjadi konsumsi impulsif. Belanja berlebihan tetap bisa terjadi meski barang yang di beli merupakan produk bekas.

Baca Juga: Penyesuaian Jam Kerja ASN dan Layanan Publik Saat Bulan Ramadan

Fenomena ini memperlihatkan bahwa thrifting dapat bermakna berbeda bagi setiap orang, tergantung pada kesadaran dan kebutuhan masing-masing konsumen.

Di sisi lain, tren ini juga menciptakan peluang baru dalam ekosistem ekonomi sirkular, di mana barang di gunakan lebih lama dan perputaran produk menjadi lebih berkelanjutan.

Pada akhirnya, budaya thrifting mencerminkan perubahan besar dalam pola konsumsi masyarakat modern, yang menggabungkan aspek ekonomi, gaya hidup, dan kepedulian lingkungan secara bersamaan.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru