GARUT, FOKUSJabar.id: Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin berserta rombongan melanjutkan ziarah ke makam Bupati ke-20, Momon Gandasasmita di Pasirlingga, Desa Jati, Jumat (13/2/2026).
Sebelumnya berziarah ke makam Bupati Garut ke-22, H. Dede Satibi di Makam Besar Pasawahan, Jalan KH. Mashduqi Kelurahan Pananjung Kecamatan Tarogong Kaler.
BACA JUGA:
Bupati Garut Ziarah ke Makam Bupati ke-22 H. Dede Satibi
Menurut Syakur, ziarah tersebut bukan sekadar seremoni. Namun untuk mendoakan dan mengingat kembali jasa para pendahulu.
Dia mengagumi sosok almarhum Momon Gandasasmita terkait etos kerjanya yang sangat luar biasa.
Dia menyebut, dedikasi bekerjanya nyaris tanpa henti demi masyarakat sebagai standar tinggi bagi pejabat pemerintahan saat ini.
“Ini adalah amanah yang kita terima untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu. Tentu saja apa yang tadi kita lakukan karena mereka memberikan contoh,” katanya.
Putri pertama almarhum Momon Gandasasmita, Mita Permata Sari mengaku terharu. Bagaimana tidak, ziarah ini merupakan kegiatan perdana yang di lakukan secara resmi oleh Pemda sejak kepulangan almarhum.
“Izinkan saya mewakili keluarga juga menyampaikan bahwa walaupun kami putra-putri dari almarhum berkarier dan berkegiatan di Kota Bandung, tapi kami tetap melanjutkan, meneruskan, mengurus peninggalan almarhum. Yaitu, Sekolah Tinggi Hukum Garut,” jelas Mita.
BACA JUGA:
Bupati Garut Pimpin Gerakan Ngariksa Hate di Jalan Ibrahim Adjie
Sebelumnya FOKUSJabar mengabarkan, Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin menekankan bahwa ziarah ini memiliki empat esensi utama bagi dirinya dan jajaran pemerintahan.
Pertama, ziarah ini adalah pengingat diri bahwa kita semua akan berpulang. Bagaimana kita di kenang nantinya sangat bergantung pada apa yang kita kerjakan semasa hidup.
Kedua, mendoakan almarhum H. Dede Satibi dan para Bupati terdahulu agar di tempatkan di sisi Allah SWT.
Ketiga, kita merefleksikan hal-hal baik yang sudah almarhum lakukan untuk masyarakat Garut.
Terakhir, ini adalah bentuk komitmen untuk meneruskan perjuangan dan keteladanan almarhum. Terutama dalam menyeimbangkan pengabdian di pemerintahan.
(Bambang Fouristian)



