BANDUNG,FOKUSJabar.id:Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung kembali menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) menjelang Ramadan guna menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan pokok.
Tahun ini, kegiatan tersebut di jadwalkan berlangsung sedikitnya 32 kali dan masih berpeluang bertambah sesuai kebutuhan di lapangan.
Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengatakan GPM di fokuskan pada komoditas yang tengah mengalami kenaikan harga seperti telur, daging ayam, dan cabai. Komoditas tersebut di prioritaskan agar gejolak harga di pasaran dapat di tekan melalui intervensi subsidi.
Baca Juga: Menjaga Suara yang Tak Lekang Waktu: Radio Antik Hidup Kembali dalam Bandung Kota Cerita
“Kalau yang sedang naik itu harga untuk tiga komoditas, misalnya telur, ayam, cabai, hanya itu sebetulnya yang harus di tampilkan. Di sini harganya itu dapat subsidi, jadi pemerintah mensubsidi harga pangan,”kata Gin Gin di pada kegiatan GPM di Kantor DKPP Jalan Arjuna Kota Bandung Jumat (13/2/2026).
Gin Gin menyebut, saat ini harga telur di pasaran berada di kisaran Rp30.000–Rp31.000 per kilogram. Melalui GPM, telur di jual Rp27.000 per kilogram karena pemerintah menanggung sebagian biaya distribusi.
“Jadi kami fasilitasi untuk biaya angkutannya. Yang kedua, kami membeli langsung dari distributor, produsen, bahkan ke petaninya langsung, sehingga harganya bisa di tekan. Termasuk dari sisi kualitas, bahkan kami sangat selektif melakukan pemeriksaan keamanannya,” katanya.
Menjamin Ketersediaan Bahan Pangan
Selain menjaga keterjangkauan harga, GPM menjadi salah satu upaya pemerintah buat menjamin ketersediaan bahan pangan menjelang bulan Ramadan. Dengan demikian, potensi kelangkaan bahan pangan yang dapat berdampak pada kenaikan harga bisa di cegah.
“Makanya hari ini GPM di lakukan serentak di tingkat nasional, itu dalam upaya menghadapi Ramadan. Nanti juga kami ada meeting zoom bersama daerah lain untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan buat menghadapi bulan puasa,ucapnya.
Meski menitikberatkan pada komoditas yang mengalami kenaikan harga, berbagai bahan pangan lain tetap tersedia dengan harga Rp1.000–Rp2.000 lebih murah dari pasaran. Produk hasil program Buruan SAE juga turut di jual sebagai bentuk edukasi urban farming kepada masyarakat.
Baca Juga: Wali Kota Bandung Soroti Kesenjangan Sosial Saat Lantik Ratusan Pejabat
“Nah, itu juga kelebihan GPM di Kota Bandung, makanya tahun lalu kami mendapatkan penghargaan. Jadi kami selalu mengolaborasikan kegiatan GPM dengan berbagai kegiatan, termasuk kami tampilkan produk-produk hasil dari Buruan SAE,”ungkapnya.
Gin Gin menambahkan, dari target 32 kali pelaksanaan GPM yang di biayai APBD, hingga Februari sudah di gelar empat kali dan enam kali lagi di siapkan sebelum Idul fitri. Dalam kondisi tertentu, satu kecamatan bisa mendapatkan dua hingga tiga kali pelaksanaan.
“Kadang-kadang karena situasi tertentu, di satu kecamatan itu bisa lebih ada dua atau tiga kali GPM. Yang 32 kali itu GPM dari APBD, biasanya ada juga support yang meminta kami menyelenggarakan GPM, jadi setahun itu bisa lebih dari 32 kali di adakan GPM,”pungkasnya.
(Yusuf Mugni)



