CIAMIS,FOKUSJabar.id: Pembangunan Masjid Raya Darussalam Ciamis resmi di mulai melalui prosesi peletakan batu pertama di lingkungan Pondok Pesantren Darussalam, Jumat (13/09/2026).
Momen ini menjadi kelanjutan dari gerakan wakaf yang telah bergulir sejak Juni 2025 bersamaan dengan peresmian Pusat Wakaf Darussalam (Puswada).
Kegiatan berlangsung khidmat dan di hadiri Sekretaris Daerah Ciamis Dr. H. Andang Firman Triyadi, MT., Ketua DPRD Ciamis H. Nanang Permana, Asisten Daerah III Pemkab Ciamis Drs. H. Wawan Ruhyat, M.M.
Baca Juga: Bupati Ciamis Soroti Akuntabilitas Keuangan di Kecamatan Purwadadi
Kepala Kemenag Ciamis, H. Asep Lukman Hakim, Ketua Baznas Ciamis H. Lili Miftah, Ketua DMI Ciamis, Drs. Syarief Nurhidayat, para ulama, tokoh masyarakat, pengurus pesantren, santri serta tamu undangan.
Pimpinan Ponpes Darussalam sekaligus Direktur Utama Puswada, KH. Fadlil Yani Ainusyamsi (Ang Icep), menuturkan pembangunan masjid tidak sekadar menambah fasilitas ibadah, melainkan bagian dari pembentukan kawasan pesantren yang berorientasi pada pembinaan umat.
“Masjid ini bukan hanya tempat shalat. Kami ingin Darussalam menjadi pusat pendidikan, pembinaan akhlak, dan penguatan kegiatan keagamaan masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masjid akan berdiri di atas lahan sekitar 420 bata atau kurang lebih 5.880 meter persegi dengan ukuran bangunan utama 40 x 40 meter.
“Area dalam masjid di rancang seluas sekitar 36 x 28 meter dan di lengkapi halaman luas untuk menampung jamaah pada kegiatan besar keagamaan,” ungkapnya.
Kebutuhan Anggaran Pembangunan
Ia juga menyampaikan untuk kebutuhan anggaran pembangunan di perkirakan mencapai Rp8,5 miliar. Namun pihak pesantren tidak menetapkan batas waktu penyelesaian karena pembangunan akan menyesuaikan kemampuan dan partisipasi masyarakat.
“Kita tidak mengejar waktu tertentu. Yang penting langkah awal sudah di mulai. Insya Allah pembangunan berjalan seiring dukungan umat,” kata Ang Icep.
Ia mengajak alumni, pengusaha, majelis taklim, serta masyarakat luas untuk terlibat melalui wakaf dan infak. Menurutnya, semangat gotong royong menjadi kekuatan utama pembangunan masjid.
Turut hadir Sekretaris Daerah Ciamis, Andang Firman Triyadi menegaskan pembangunan masjid bukan sekadar proyek fisik, melainkan fondasi pembinaan umat.
“Masjid tidak hanya tempat salat. Rasulullah SAW membangun Masjid Nabawi sebagai langkah awal membangun peradaban Madinah. Masjid Raya Darussalam harus kita proyeksikan menjadi pusat ibadah, tempat santri belajar, ruang diskusi masyarakat, bahkan solusi persoalan sosial,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan masjid dapat menjadi laboratorium pembelajaran Islam sekaligus ruang pembinaan masyarakat lintas kalangan, termasuk bagi musafir dan generasi muda. Menurutnya, membangun rumah Allah merupakan investasi spiritual yang tidak pernah merugi.
“Jika kita bergotong royong, insyaallah pembangunan tidak akan lama. Ini ladang amal bagi umat yang di beri kesempatan membangun rumah Allah,” ungkapnya.
Sampaikan Rasa Syukur
Sementara itu pimpinan proyek pembangunan, Ahmad Agung (Abah), dalam laporannya menyampaikan rasa syukur atas dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, perbankan, orang tua santri hingga para mujahid wakaf.
“Hari ini kita bukan sekadar meletakkan batu. Kita sedang menanam fondasi iman dan persaudaraan. Masjid ini di harapkan menjadi tempat lahirnya generasi berilmu sekaligus berakhlak,” tuturnya.
Baca Juga: Bupati Ciamis Ingatkan Bahaya Potong BPNT
Ia menambahkan, keberadaan masjid nantinya akan di fungsikan sebagai pusat kegiatan keagamaan, pembelajaran Al-Qur’an, pembinaan pemuda, serta aktivitas sosial kemasyarakatan.
Menurutnya, setiap bentuk partisipasi masyarakat memiliki nilai ibadah jangka panjang. Wakaf, kata dia, bukan di lihat dari besar kecilnya nominal, melainkan keikhlasan dan kebermanfaatannya.
“Setiap rupiah yang di infakkan adalah investasi akhirat. Semoga Allah mengganti dengan keberkahan dan pahala yang terus mengalir,” ucapnya.
Pesantren berharap Masjid Raya Darussalam ke depan mampu menjadi pusat kegiatan umat di wilayah Ciamis, sekaligus memperkuat peran pesantren sebagai penggerak pendidikan Islam, dakwah, dan kepedulian sosial masyarakat.
(Mia)



