PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sepucuk kertas berisi perpisahan di temukan sebelum Suhadman (50) meninggal dunia dalam keadaan tidak wajar di sebuah saung di Dusun Babakanjaya Desa Kedungwuluh Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.
Isi surat tersebut di tulis menggunakan bahasa daerah (Sunda). Dalam surat itu dia menyampaikan permohonan maaf kepada saudaranya yang telah banyak di repotkan olehnya. Dia juga menitipkan anaknya bernama Epul serta istri tercintanya.
Saking sayangnya kepada sang istri, Suhadman menitipkan pesan jika istrinya tidak boleh melihat langsung kondisi kematiannya yang mengenaskan itu.
Baca Juga: Pejabat Pangandaran Diduga Terlibat Praktik Investasi Bodong, Masyarakat Dorong APH Tindak Tegas
”Pamajikan bejaan tapi ulah datang, Abi karunya (kasih tahu istri tapi jangan suruh datang, saya kasihan),” tulis Suhadman di dalam isi wasiatnya kepada saudaranya.
Selain itu, Suhadman juga meminta saudaranya agar uang material di serahkan kepada istrinya untuk bayar hutang dan pindah kontrakan.
”Penta ka nu beunghar Rp20 juta bikeun ka pamajikan jang mayar hutang sesana sok keur usaha. Hampura abi nu loba dosa (minta sama orang kaya Rp20 juta kemudian kasihkan kepada istri untuk bayar hutang, sisanya untuk buka usaha. Maafin saya yang banyak dosa),” ucapnya.
Suhadman juga meminta agar kematiannya jangan di lakukan acara pengajian. Hal ini menurutnya akan menjadi beban keluarga.
”Tong di tahlilan bisi jadi hutang (jangan di lakukan tahlilan/pengajian takut jadi hutang,” ujarnya.
Isi Surat Suhadman
Selain itu, Suhadman juga menuliskan pesan mendalam kepada anak dan istrinya.
”Hampura bapak. Epul kudu nurut ka mamang, ulah siga bapak. Mah (istrinya ) hampura Aa can bisa nyenengkeun. Kade inget omongan Aa mah, bere mamang Rp2 juta jang modal. Nitip (maaf bapak, Epul harus berbakti sama paman, jangan seperti bapak. Mah hampura Aa belum bisa membahagiakan. Jangan lupa pesen Aa mah, kasih mamang Rp2 juta buat modal. Titip,” pungkasnya.
Baca Juga: Di Usia 70 Tahun, Pasutri Cimerak Pangandarn Bertahan Hidup dari Sapu Lidi Rp1.800
Diketahui, Peristiwa tersebut sempat mengegerkan warga setempat. Kejadian ini terjadi pada pukul Jumat, (13/2/2026) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari.
Surat tersebut pertama kali di temukan oleh Saudaranya, Supardi. Dan benar, ketika di temukan, Suhadman sudah meninggal dunia.
Namun meski demikian, pihak keluarga menolak untuk di autopsi dan sudah menerima dengan iklas atas kejadian ini. Hal ini tertulis dari surat pernyataan yang Supardi buat lengkap dengan tanda tangan di atas materai.
(Sajidin)



