spot_img
Sabtu 7 Februari 2026
spot_img

Pasanggiri Jaipongan Jadi Ajang Regenerasi Seni Sunda di Tasikmalaya

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Ratusan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai tingkat SD hingga perguruan tinggi se-Jawa Barat, memadati ajang Pasanggiri Jaipongan Piala Wali Kota Tasikmalaya 2026. Perhelatan seni budaya ini menjadi ruang ekspresi sekaligus ajang regenerasi pelestari Jaipongan di kalangan generasi muda.

Pasanggiri berlangsung di GOR Sukapura, Kompleks Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, dan dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara, Sabtu (7/2/2026). Antusiasme peserta dan masyarakat terlihat sejak hari pertama pelaksanaan.

Baca Juga: SBY Pernah Berkunjung ke Sentra Kerajinan Rajapolah Tasikmalaya

Event budaya tingkat Provinsi Jawa Barat ini digagas Komunitas Budaya Jawa Barat Dera Kinarya bersama Wira Pawitra, berkolaborasi dengan Disporabudpar Kota Tasikmalaya. Lebih dari 350 peserta ambil bagian untuk memperebutkan Piala Wali Kota Tasikmalaya.

Panitia menjadwalkan pasanggiri berlangsung dalam dua tahap, yakni 7–8 Februari dan 14–15 Februari 2026, dengan menghadirkan beragam kategori lomba sesuai jenjang usia dan tingkat kemampuan peserta.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara, menegaskan bahwa Jaipongan merupakan identitas budaya masyarakat Sunda yang harus dijaga dan diwariskan lintas generasi.

“Jaipongan adalah kesenian khas Jawa Barat. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melestarikannya, terutama dengan melibatkan anak-anak dan generasi muda,” ujarnya.

Nilai Religius dan Filosofi Kehidupan

Ia menjelaskan, Jaipongan tidak sekadar seni pertunjukan, tetapi juga mengandung nilai religius dan filosofi kehidupan. Kesenian ini memadukan unsur pencak silat, ketuk tilu, dan wayang golek yang sarat makna.

“Sebagai warga Sunda, kita patut bangga. Jaipongan telah dapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional sejak 2014,” katanya.

Menurutnya, gerakan Jaipongan yang dinamis, energik, dan penuh keceriaan membuat kesenian ini tetap relevan. Terlebih masih menjadi minat bagi berbagai kalangan hingga saat ini.

“Sering menggelar pasanggiri atau sekadar menonton Jaipongan merupakan bentuk nyata pelestarian budaya Jawa Barat,” tuturnya.

Selain menjaga tradisi, Ia menilai kegiatan seni budaya juga berdampak langsung terhadap pergerakan ekonomi masyarakat. Event berskala regional ini menarik kunjungan peserta dan penonton dari berbagai daerah.

“Kegiatan seperti ini menggerakkan ekonomi lokal. UMKM, kuliner, penginapan, hingga hotel ikut merasakan manfaatnya,” paparnya.

Ia menambahkan, Tasikmalaya perlu terus mendorong diri sebagai kota penyelenggara berbagai event seni dan budaya. Tentunya tanpa meninggalkan identitasnya sebagai Kota Santri.

“Kota ini harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi berbagai event regional, nasional, bahkan internasional. Dampaknya akan terasa langsung pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Melalui Pasanggiri Jaipongan, Pemerintah Kota Tasikmalaya berharap kecintaan terhadap seni tradisional tumbuh sejak usia dini. Sehingga Jaipongan tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

(Seda)

spot_img

Berita Terbaru