GARUT, FOKUSJabar.id: Mantan anggota DPRD Garut, Dadang Sudrajat mengatakan, rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan masalah klasik yang selalu di angkat menjadi materi kampanye menjalang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk menarik simpati calon pemilih (masyarakat).
Begitu juga dengan Bupati/Wakil Bupati (Abdusy Syakur Amin/Putri Karlina) yang mengusung “Garut Hebat.” Keduanya optimistis IPM Garut akan lebih baik dari pemerintahan sebelumnya.
BACA JUGA:
Ormas Laskar Prabowo 08 Soroti Garut Termiskin ke-2 di Jawa Barat
Namun kenyataannya, IPM Garut hingga kini masih cukup memprihatinkan. Di mana berada kedua paling bawah se Provinsi Jawa Barat (Jabar).
Meski begitu, mantan Ketua Fraksi Demokrat ini menyatakan, rasanya tidak adil kalau kondisi IPM saat ini di jadikan salah satu indikator untuk mengukur efektivitas kebijakan pemerintahan sekarang.
“Rasanya kurang adil kalau IPM saat ini di jadikan salah satu indikator untuk mengukur efektivitas pemerintahan Syakur-Putri,” kata Dadang kepada FOKUSJabar, Jumat (6/2/2026).
Menurut mantan Ketua BK DPRD Garut, IPM sulit membaik jika belanja APBD di setiap SKPD monoton. Karenanya, pihak legislatif yang notabene membahas RAPBD harus cerdas dan berani dalam menyusun APBD.
Artinya, para wakil rakyat harus memahami problem lapangan secara riil yang mengakibatkan lahirnya IPM kabupaten Garut rendah.
BACA JUGA:
IPM Rendah, Bupati Garut Ajak Warga Talegong ‘Kerja Ekstra’
“Saat Menyusun RAPBD, DPRD harus cerdas dan memahami problem yang mengakibatkan IPM Garut rendah,” ungkap Dadang.
Untuk itu, sudah saatnya pada penyusunan RAPBD merubah pendekatan pembagian pagu anggaran di setiap SKPD yang tidak relevan dengan usaha peningkatkan IPM.
“Saya menilai wajar kalau IPM Garut menduduki ranking 2 terbawah di Jawa Barat. Karena APBD-nya belum berpihak kepada penyelesaian problem,”pungkas Ketua 1 Forum Ketahanan dan Kemandirian Pangan Masyarakat Desa (FK2PMD).
Sebelumnya FOKUSJabar mengabarkan, Ketua Penasihat Ormas Laskar Prabowo 08 Kabupaten Garut, Anton Heryanto menyoroti Garut sebagai kabupaten dengan IPM terendah kedua di Jabar.
Dia menyebut, beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya IPM Garut. Yakni, rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah masih tertinggal jika di bandingkan kabupaten/kota lain.
Angka harapan hidup di Garut masih belum optimal karena keterbatasan fasilitas kesehatan dan distribusi tenaga medis yang tidak merata. Selain itu, pendapatan per kapita warga Garut masih tergolong rendah.
Untuk meningkatkan IPM, Pemerintah Daerah (Pemda) perlu berinovasi dalam memperluas akses pendidikan menengah dan atas serta mendorong program kejar paket bagi warga dewasa yang belum menyelesaikan pendidikan formal.
Selanjutnya untuk menanggulangi faktor ekonomi, harus memperbanyak lapangan pekerjaan dan meningkatkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
(Bambang Fouristian)


