spot_img
Minggu 1 Februari 2026
spot_img

Dari Rumah Sempit Hingga Sudut Kota, Menteri LH Sidak Pengelolaan Sampah di Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq meninjau langsung pengelolaan sampah di Kabupaten Ciamis, Minggu (1/6/2026) siang. Kunjungan mendadak ini bertujuan menguji kesesuaian praktik di lapangan dengan penilaian tata kelola sampah nasional.

Dalam peninjauan tersebut, Hanif menyusuri sejumlah lokasi strategis, mulai dari kawasan Bolenglang di Kelurahan Kertasari, Pasar Bojong Desa Bojongmengger, Bank Sampah Ciamis, hingga Pasar Manis Ciamis. Ia melakukan inspeksi tanpa pendampingan pejabat Pemerintah Kabupaten Ciamis.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Terjang Sukadana Ciamis, Sejumlah Rumah dan Sekolah Rusak

Usai mengunjungi Bank Sampah Ciamis, Hanif menyampaikan capaian positif Kabupaten Ciamis dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan pemantauan selama satu tahun, Ciamis mencatat nilai tertinggi secara nasional.

“Dalam kerangka penilaian tata kelola sampah nasional, Ciamis menjadi satu-satunya daerah dari 514 kabupaten/kota yang meraih nilai tertinggi,” ujar Hanif kepada awak media.

Ia menjelaskan, keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berstatus controlled landfill turut mendongkrak nilai Ciamis. Selain itu, penilaian juga mencakup sistem anggaran, kualitas sumber daya manusia, serta ketersediaan sarana dan prasarana.

Hanif menegaskan, pemerintah pusat menilai seluruh daerah dengan parameter yang sama, mulai dari keberadaan bank sampah induk dan unit, TPS3R, hingga TPST. Berdasarkan indikator tersebut, Ciamis menempati posisi teratas dan berpeluang meraih penghargaan Adipura.

Meski demikian, Hanif tetap melakukan pengecekan langsung ke berbagai sudut kota sebelum rekomendasi penghargaan diberikan. Ia masih menemukan sejumlah aspek yang perlu pembenahan.

“Beberapa titik masih membutuhkan peningkatan. Namun harus diakui, hampir seluruh desa dan masyarakat Ciamis sudah membiasakan pemilahan sampah,” katanya.

Tantangan Pemerintah Daerah Terkait Keadaran Masyarakat

Hanif bahkan menyaksikan warga dengan keterbatasan ruang hunian tetap memilah sampah karena memiliki nilai ekonomi. Praktik serupa juga ia temukan di desa-desa lain di wilayah Ciamis.

Ia mengakui masih menemukan pengelolaan sampah bernilai rendah yang berujung pada pembakaran atau pembuangan ke sungai. Hanif menyebut kondisi ini menjadi tantangan yang perlu dituntaskan pemerintah daerah.

“Kementerian Lingkungan Hidup ingin memiliki satu kabupaten yang paripurna dalam pengelolaan sampah. Dari ratusan juta penduduk Indonesia, seharusnya ada daerah yang mampu menekan volume sampah secara signifikan,” tegasnya.

Hanif berharap model pengelolaan sampah di Ciamis dapat menginspirasi daerah lain, terutama kota-kota dengan kapasitas fiskal lebih besar. Ia menilai Ciamis berpotensi menjadi pemicu perubahan dalam penanganan darurat sampah nasional.

Sementara itu, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengaku terkejut dengan kehadiran mendadak Menteri Lingkungan Hidup. Ia membenarkan penilaian yang disampaikan Hanif terkait kelebihan dan keterbatasan daerahnya.

“Kami masih memiliki banyak kekurangan. Ciamis baru memiliki niat dan mimpi menjadi daerah bersih, sementara keterbatasan anggaran membuat ruang gerak kami sangat terbatas,” ujar Herdiat.

Ia menegaskan, pemerintah daerah mengandalkan peran aktif masyarakat sebagai kunci utama pengelolaan sampah. Keterbatasan anggaran membuat penerapan teknologi pengolahan modern belum memungkinkan.

“Karena itu kami terus mengajak masyarakat membiasakan memilah sampah sejak dari rumah. Partisipasi warga menjadi kekuatan utama Ciamis,” pungkasnya.

spot_img

Berita Terbaru