spot_img
Jumat 30 Januari 2026
spot_img

Jejak Dakwah Islam dan Petilasan Seorang Kiai di Kota Banjar

BANJAR, FOKUSJabar.id: Petilasan Kiai Haji Hasan Husen yang berada di kawasan Pasir Cabe, tepatnya di Dusun Sukaharja, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, menyimpan jejak penting sejarah penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Jejak dakwah tokoh agama itu hingga kini masih di jaga melalui tradisi lisan dan kearifan lokal masyarakat setempat.

Hal tersebut di sampaikan Nyai Iming, juru kunci petilasan, yang telah merawat dan menjaga kawasan itu sejak awal tahun 2000-an.

Baca Juga: Polres Banjar dan Pemkot Optimalkan Lahan Bantaran Sungai untuk Tanam Jagung Hibrida

Ia menjelaskan, petilasan tersebut bukanlah makam, melainkan tempat singgah atau niis dalam istilah Sunda, yang di yakini menjadi lokasi Kiai Haji Hasan Husen beristirahat sekaligus melakukan siar agama Islam dalam perjalanan dakwahnya.

“Ini tempat singgah, tempat siar agama. Bukan makam,” ujar Nyai Iming saat di temui di lokasi petilasan, Jumat (30/1/2026).

Menurutnya, nama Pasir Cabe sejatinya bukan nama asli kawasan tersebut. Nama itu di gunakan pada masa lampau sebagai bentuk penyamaran untuk melindungi lokasi dan menjaga kesakralannya. Hingga kini, sejarah penamaan asli tempat tersebut belum sepenuhnya di buka ke publik.

“Yang aslinya bukan Pasir Cabe. Dulu di sembunyikan. Nanti kalau sudah waktunya, akan di buka dan di ceritakan,” katanya.

Tak Sembarangan Masuk

Nyai Iming juga menuturkan, tidak semua orang di perkenankan memasuki area inti petilasan. Hanya mereka yang memahami adab dan tujuan ziarah yang di perbolehkan, demi menjaga kebersihan, ketenangan, dan kesakralan kawasan tersebut.

“Keramaian itu harus di pelihara, jangan sampai di kotori. Ini tempat penyebaran agama, jadi harus benar-benar di jaga,” ujarnya.

Meski jumlah peziarah tidak banyak, sebagian masyarakat datang untuk mencari ketenangan batin. Suasana kawasan yang sejuk dan tenang di percaya mampu memberikan rasa damai bagi pengunjung yang tengah menghadapi persoalan hidup.

“Kalau orang Sunda bilangnya tiis, jadi hati tenang,” tuturnya.

Di dalam kawasan petilasan terdapat beberapa titik yang di yakini sebagai penyawangan atau tempat duduk, yang dulunya di gunakan untuk beristirahat dan mengamati wilayah sekitar.

Namun, identitas lengkap para leluhur yang di yakini menjaga kawasan tersebut belum dapat di sampaikan secara terbuka.

Nyai Iming menegaskan, keterbatasan informasi yang di bagikan saat ini di lakukan demi kehati-hatian. Ia masih berkoordinasi dengan sejumlah peneliti budaya dan sejarah agar informasi yang di sampaikan ke publik memiliki dasar yang kuat.

“Ini masih tahap dasar untuk penelitian. Belum waktunya di buka semua,” tegasnya.

Identitas Sejarah dan Budaya

Kepala Desa Karyamukti, Fikri Aditia, menyatakan bahwa keberadaan Petilasan Kiai Haji Hasan Husen merupakan bagian penting dari identitas sejarah dan budaya masyarakat desa.

Pemerintah desa, kata dia, mendukung penuh upaya pelestarian kawasan tersebut agar nilai sejarah dan religiusnya tetap terjaga.

“Petilasan ini bukan hanya situs budaya, tetapi juga bagian dari sejarah dakwah Islam di wilayah Karyamukti dan Kota Banjar. Kami sangat menghormati dan mendukung upaya pelestarian yang di lakukan juru kunci dan masyarakat,” ujar Fikri.

Ia menegaskan, pengelolaan kawasan petilasan harus di lakukan secara hati-hati dengan tetap mengedepankan kearifan lokal serta menjaga nilai kesakralan.

Baca Juga: PDI Perjuangan Kota Banjar Gelar Musancab Serentak

Karena itu, pemerintah desa bersikap selektif dalam membuka akses dan informasi kepada publik.

“Kami tidak ingin tempat ini hanya menjadi objek wisata biasa. Nilai spiritual dan sejarahnya harus tetap menjadi yang utama,” katanya.

Fikri juga membuka peluang kerja sama dengan peneliti budaya dan sejarah untuk menggali jejak dakwah Kiai Haji Hasan Husen secara akademis.

“Hasil kajian tersebut di harapkan dapat menjadi rujukan resmi dan sumber edukasi sejarah bagi generasi muda di masa mendatang,” harapnya.

(Agus)

spot_img

Berita Terbaru