BANDUNG,FOKUSJabar.id: Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta seluruh jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi cuaca ekstrem yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.
Farhan menegaskan, perubahan iklim dan cuaca ekstrem merupakan kondisi nyata yang harus di hadapi dengan kesiapan serta perencanaan yang matang, bukan dengan saling menyalahkan.
“Kita tidak boleh menyalahkan cuaca. Kita harus menyalahkan diri sendiri apabila tidak mampu mengantisipasi dampak dari cuaca ekstrem tersebut,”kata Farhan Selasa (27/1/2026).
Baca Juga: Pemkot Bandung Tahan Operasional Insinerator, Masih Tunggu Hasil Uji Emisi
Farhan juga menyinggung bencana yang terjadi di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) sebagai pelajaran penting bagi Pemerintah Kota Bandung agar lebih sigap dalam melakukan mitigasi dan penanganan risiko bencana.
Farhan menjelaskan, bahwa kondisi lingkungan di wilayah utara Kota Bandung saat ini semakin rentan akibat berkurangnya tutupan hutan dari wilayah barat hingga timur.
Situasi tersebut meningkatkan potensi terjadinya banjir, longsor, serta berbagai gangguan lingkungan lainnya yang berdampak langsung pada keselamatan warga.
“Kota Bandung ini berada di posisi sebagai penerima dampak. Karena itu kita harus lebih antisipatif, kesiapsiagaan harus di perkuat dari sekarang,”katanya.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Bandung mulai menerapkan teknologi sistem peringatan dini. Hingga kini, baru satu titik sensor ketinggian air terpasang di Sungai Cikapundung.
Ke depan, Pemkot berencana menambah titik sensor di sejumlah sungai lain yang melintasi Kota Bandung.
“Sekarang ini baru satu titik di Sungai Cikapundung yang punya sensor. Kalau airnya naik dengan deras yang sangat tinggi, kita bisa tahu. Ke depan kita cari beberapa titik lain untuk diterapkan teknologi sensor,” jelasnya.
Tambah Ruang Terbuka Hijau
Selain penguatan sistem peringatan dini, Pemkot Bandung juga menargetkan penambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai bagian dari strategi jangka menengah dan panjang.
Perhitungan ulang luasan RTH tengah di lakukan oleh Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang (Cipta Bintar) bekerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional dan ATR.
“Target kita menambah RTH. Perhitungan barunya sedang di lakukan. Selain itu, saya juga akan mencari kemungkinan CSR dari perusahaan-perusahaan besar untuk membuka RTH di Kota Bandung,” ungkapnya.
Baca Juga: Pemkot Bandung Turunkan Bantuan Tanggap Bencana ke Bandung Barat
Bahkan tidak menutup kemungkinan di lakukan penataan ulang ruang demi mengejar target minimal 30 persen RTH sesuai ketentuan. Langkah tersebut di nilai penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi risiko bencana.
Terkait kesiapsiagaan anggaran, Farhan memastikan bahwa Pemkot Bandung masih memiliki cadangan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) yang dapat di mobilisasi sewaktu-waktu apabila terjadi bencana.
“Cadangan kas kita insyaallah bisa dengan mudah di alihkan apabila terjadi bencana,”pungkasnya.
(Yusuf Mugni)


