GARUT, FOKUSJabar.id: Ada suasana hangat yang menyelimuti Gedung Balai Kemasyarakatan Desa Giriawas Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut Jawa Barat (Jabar), Senin (26/1/2026) kemarin.
Di sana, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Kota Intan (Permata Intan) Garut berkumpul. Bukan untuk unjuk rasa melainkan untuk berpamitan setelah menuntaskan misi pengabdian dalam program “Pamungkas Bakti Desa 2026.”
BACA JUGA:
Satu Abad NU di Garut, Bupati Garut Siapkan Akses Modal Tanpa Agunan
Membawa semangat “Ngajadikeun Permata Intan nu Sajati, Ngabdi ka Lemah Cai Sangkan Garut Madani” para intelektual muda ini mencoba menjembatani antara teori di bangku kuliah dengan realita sosial di pedesaan yang dingin dan asri.
Desa Sebagai Sumber Cahaya
Ketua Umum Permata Intan Garut 2025-2026, Suni Subagja menjelaskan, desa bukanlah pinggiran. Namun jantung dari kemajuan bangsa.
“Indonesia tidak akan bercahaya oleh obor yang ada di Jakarta. Indonesia akan bercahaya oleh lilin-lilin yang ada di desa,” ucapnya.
Analogi tersebut menjadi alasan kuat mengapa mereka memilih Desa Giriawas sebagai lokus pengabdian. Di sini, mahasiswa belajar bahwa perubahan besar seringkali di mulai dari langkah-langkah kecil di pelosok desa.
Penerimaan Hangat di Tanah Cikajang
Kehadiran mahasiswa di sambut terbuka oleh warga setempat. Kepala Desa Giriawas, Deni Sunjani menyebut, desanya memiliki filosofi unik. Yakni, “Membangun Desa dengan Silaturahmi.”
Baginya, kedatangan mahasiswa bukan sekadar tamu. Melainkan keluarga baru yang membawa energi segar.
“Kami percaya silaturahmi membuka segalanya. Termasuk rezeki. Semoga jalinan ini membawa berkah bagi semua,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Pemkab Garut Rilis Panduan Hari Jadi ke-213, Upacara Puncak Digelar 18 Februari
Sekretaris Kecamatan Cikajang, Ratu Ayu Wira Pertiwi melihat, dedikasi mahasiswa selama di Giriawas telah meninggalkan jejak program yang nyata.
Dia titip pesan agar tongkat estafet program yang telah di rintis mahasiswa dapat di lanjutkan oleh perangkat desa dan masyarakat setempat.
Bagi para mahasiswa, Bakti Desa ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban organisasi. Ini adalah ajang menempa empati. Di Giriawas, mereka belajar mendengar keluh kesah petani, berinteraksi dengan anak-anak desa hingga memahami dinamika kemasyarakatan yang tidak di temukan di buku teks.
“Kami ingin mahasiswa memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Pulang dari sini, mereka bukan hanya membawa kenangan. Namun membawa bekal karakter untuk masa depan,” kata Suni.
(Y.A. Supianto)


